SEKILAS INFO
  • 5 bulan yang lalu / JADWAL KAJIAN AQIDAH TAUHID ASWAJA DR. KH. KHOLILURROHMAN, MA MASJID LATHIIFUSSALAAM – RS. BHAKTI ASIH KOTA TANGERANG SETIAP JUM’AT DAN MINGGU SETELAH SHALAT MAGHRIB PEMBAHASAN KITAB SYARH JAUHARATUTTAUHID
  • 5 bulan yang lalu / JADWAL KAJIAN MAJELIS SUBUH NURUL HIKMAH SETIAP HARI SETELAH SHALAT SUBUH KITAB YANG DI KAJI SAAT INI RIYADHU ASH-SHALIHIN
  • 5 bulan yang lalu / JADWAL KAJIAN TAUHID ASWAJA DR. KH. KHOLILURROHMAN, MA DI MASJID AL-MADINAH CBD CILEDUG KOTA TANGERANG SETIAP SABTU SETELAH SHALAT MAGHRIB KITAB SYARH MATAN AQIDATUL AWAM
JAM :

Bagian 11 | Hadits Budak Perempuan Hitam (Hadîts al-Jâriyah as-Sawdâ’) Dan Penjelasan Allah Ada Tanpa Tempat

Terbit 31 Mei 2021 | Oleh : Pondok Pesantren Nurul Hikmah | Kategori : Catatan Aqidah

Dalil Allah Ada Tanpa Tempat Dan Tanpa Arah

 

Berikut ini adalah dalil-dalil menunjukan bahwa Allah ada tanpa tempat dan tanpa arah;

1 ﴿

(Firman Allah QS. asy-Syura: 11)

ليس كمثلِه شىء (سورة الشورى :11)

[Maknanya]: “Dia (Allah) tidak menyerupai sesuatupun dari makhluk-Nya (baik dari satu segi maupun semua segi), dan tidak ada sesuatupun yang menyerupai-Nya”. (QS as-Syura: 11)

Ayat ini adalah ayat paling jelas dalam al-Qur’an yang berbicara tentang Tanzih (mensucikan Allah dari menyerupai makhluk), at-Tanzih al-Kulliy; pensucian yang total dari menyerupai makhluk. Maka maknanya sangat luas, dari ayat tersebut dapat dipahami bahwa Allah maha suci dari berupa benda, dari berada pada satu arah atau banyak arah atau semua arah. Allah maha suci dari berada di atas Arsy, di bawah Arsy, sebelah kanan atau sebelah kiri Arsy. Allah juga maha suci dari sifat-sifat benda seperti bergerak, diam, berubah, berpindah dari satu keadaan ke keadaan yang lain dan sifat-sifat benda yang lain.

Dengan demikian dalam ayat QS. Asy Syura: 11 ini terdapat dalil bagi Ahlussunnah bahwa salah satu sifat Allah adalah ”Mukhalafah Lil Hawadits”; artinya bahwa Allah tidak menyerupai suatu apapun dari makhluk-Nya yang baharu ini. Sifat Allah; ”Mukhalafah Lil Hawadits” ini adalah salah satu sifat Salbiyyah yang lima dalam menunjukan bahwa Allah maha suci dari segala sesuatu yang tidak layak bagi-Nya.

Argumen logis bahwa Allah tidak menyerupai suatu apapun dari makhluk-Nya adalah karena bila Allah menyerupai makhluk-Nya maka bisa terjadi segala sesuatu yang dapat terjadi pada makhluk-Nya tersebut; seperti berubah dari satu keadaan kepada keadaan lain, berkembang, hancur, punah, dan lainnya. Seandainya Allah seperti demikian ini maka berarti Dia membutuhkan kepada yang menjadikan-Nya dalam keadaan tersebut, padahal sesuatu yang membutuhkan itu bukan Tuhan, sedikitpun tidak layak untuk disembah. Dengan demikina menjadi jelas bahwa Allah tidak menyerupai suatu apapun dari makhluk-Nya.

Ayat di atas merupakan dalil naqliyy bagi sifat Allah ”Mukhalafah Lil Hawadits”. Ayat ini adalah ayat paling jelas dalam al-Qur’an yang berbicara tentang kesucian Allah dari menyerupai makhluk-Nya. Ayat ini mengandung makna at-Tanzih al-Kulliy; pensucian yang total dari menyerupai makhluk. Kata “Syai”” dalam ayat ini dalam bentuk nakirah yang diletakan dalam Siyaq an-nafy; gaya bahasa semacam ini untuk memberikan pemahaman menyeluruh dan umum; dengan demikian maknanya bahwa Allah mutlak tidak menyerupai suatu apapun. Dengan ayat ini Allah menjelaskan bagi kita bahwa Dia bukan benda dan tidak bersifat dengan sifat-sifat benda. Dia tidak menyerupai segala sesuatu yang memiliki ruh, seperti manusia, jin, malaikat, dan lainnya. Dia tidak menyerupai segala benda mati, tidak menyerupai segala benda yang berada di arah atas, tidak menyeruapi segala benda yang ada di arah bawah.

Dalam ayat ini Allah tidak menyebutkan secara khusus sesuatu dari makhluk-makhluk-Nya, tetapi menyebutkan secara menyeluruhkan segala apapun dari makhluk-Nya dengan kata “syai’” dalam bentuk nakirah. Dengan demikian tercakup di dalamnya pemahaman kesucian Allah dari tempat, arah, batasan (al-hadd), bentuk (al-hajm), ukuran (al-kammiyyah), dan sifat-sifat benda lainnya. Allah bukan benda maka Dia maha suci dari bentuk, ukuran dan batasan.

Seandainya Allah berada di atas Arsy seperti keyakinan kaum Musyabbihah maka berarti Allah membayangi Arsy tersebut. Dan jika demikian maka tidak akan lepas dari tiga kemungkinan; bisa jadi sama besar dengan Arsy itu sendiri, bisa jadi lebih kecil, atau bisa jadi lebih besar. Keadaan seperti ini tentunya hanya berlaku pada benda yang memiliki bentuk, ukuran dan batasan. Ini semua perkara mustahil atas Allah. Dengan demikian pendapat kaum Musyabbihah yang mengatakan bahwa Allah bertempat di atas Arsy adalah pendapat batil. Orang yang mengatakan Allah memiliki bentuk dan ukuran maka dia telah menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya, semacam ini jelas merusak sifat-sifat ketuhanan pada-Nya.

Bila Allah memiliki bentuk dan ukuran maka berarti Dia membutukan kepada yang menjadikan-Nya dalam bentuk dan ukuran tersebut, karena akal sehat tidak dapat menerima jika Allah menjadikan diri-Nya sendiri dengan keadaan demikian. Lalu jika Allah membutuhkan kepada yang lain maka itu menafikan sifat ketuhanan pada-Nya, oleh karena di antara syarat ketuhanan adalah tidak membutuhkan kepada yang lain.

2 ﴿

(Hadits Rasulullah Riwayat al-Bukhari dan al-Bayhaqi)

Rasulullah bersabda:

كان الله ولم يكن شىءٌ غيره (رواه البخاري والبيهقي)

[Maknanya]: “Allah ada tanpa permulaan dan tidak ada sesuatu apapun selain-Nya” (HR. al-Bukhari dan al-Bayhaqi)[1]

Pemahaman hadits ini bahwa Allah ada Azali (tanpa permulaan), pada azal tidak ada sesuatu apapun bersama-Nya, tidak ada air, tidak ada udara, tidak ada bumi, tidak ada langit, tidak ada Kursi, tidak ada Arsy, tidak ada manusia, tidak ada jin, tidak ada malaikat, tidak ada waktu dan tidak ada tempat. Allah ada sebelum Dia menciptakan tempat dan arah. Allah yang telah menciptakan tempat dan arah; maka Allah tidak membutuhkan kepada keduanya.

Allah tidak disifati dengan berubah dari satu keadaan kepada keadaan yang lain karena perubahan tanda makhluk. Tidak boleh diyakini seperti keyakinan sesat kaum Musyabbihah yang mengatakan; Allah ada ada pada azal (tanpa permulaan) dan belum ada tempat, kemudian setelah Allah menciptakan tempat maka Dia berubah menjadi berada pada tempat dan arah yang merupakan ciptaan-Nya tersebut. Na’udzu billah.

Sungguh kata-kata yang baik dan benar orang-orang Islam ahli tauhid dalam doa mereka terkadang mengungkapkan: “Subhanalladzi Yughayyir Wa La Yataghayyar” (Maha Suci Allah yang merubah keadaan para makhluk-Nya sementara Dia Allah Dzat yang tidak berubah). Ini adalah ungkapan yang sangat baik menurut Ahlussunnah, sementara menurut kaum Musyabbihah Mujassimah; mereka yang mengaku-aku sebagai pengikut Salaf saleh ini adalah kalimat yang sangat buruk oleh karena menyalahi akidah tasybih mereka.

Mereka mengaku memerangi akidah sesat, tetapi mereka sendiri sesungguhnya berakidah sesat. Mereka membawa slogan memerangi bid’ah, tetapi mereka sendiri sebenarnya membawa bid’ah. Hasbunallah.

3 ﴿

(Perkataan Ali ibn Abi Thalib)

Seorang sahabat Rasulullah yang sangat agung, al-Khalifah ar-Rasyid, al-Imam Ali ibn Abi Thalib (w 40 H) berkata:

كَانَ (اللهُ) وَلاَ مَكَانَ، وَهُوَ الآنَ عَلَى مَا (عَلَيْه) كَانَ

[Maknanya]: “Allah ada tanpa permulaan dan tanpa tempat, dan Dia Allah sekarang (setelah menciptakan tempat) tetap sebagaimana pada sifat-Nya yang Azaliy; ada tanpa tempat”[2].

Beliau juga berkata:

إنّ اللهَ تَعَالَى خَلَقَ الْعَرْشَ إظْهَارًا لِقُدْرَتهِ لاَ مَكَانًا لِذَاتِهِ

[Maknanya]: “Sesungguhnya Allah menciptakan Arsy (makhluk Allah yang paling besar bentuknya) untuk menampakan kekuasaan-Nya bukan untuk menjadikan tempat bagi Dzat-Nya”[3].

Juga berkata:

مَنْ زَعَمَ أنّ إلَهَنَا مَحْدُوْدٌ فَقَدْ جَهِلَ الْخَالِقَ الْمَعْبُوْدَ

[Maknanya]: “Barangsiapa berkeyakinan bahwa Tuhan kita (Allah) memiliki bentuk dan ukuran maka ia tidak mengetahui Tuhan yang disembah (bukan seorang mukmin)”[4].

4 ﴿

(Perkataan Abu Ja’far ath-Thahawi)

Al-Hafizh al-Faqih al-Imam Abu Ja’far Ahmad ibn Salamah ath-Thahawi al-Hanafi (w 321 H) dalam risalah akidah Ahlussunnah yang dikenal dengan Risalah al-Aqidah ath-Thahawiyyah berkata:

وتعالى- أي الله- عن الحدود والغايات والأركان والأعضاء والأدوات، لا تحويه الجهات الست كسائر المبتدعات

[Maknanya]: “Dia Allah maha suci dari batasan-batasan, segala penghabisan, sisi-sisi, anggota badan yang besar (seperti kepada tangan, kaki dan lainnya), anggota badan kecil (seperti jari-jari, anak lidah dan lainnya). Dia tidak diliputi oleh arah yang enam (atas, bawah, depan, belakang, samping kanan dan samping kiri). Tidak seperti makhluk-makhluk-Nya yang diliputi oleh arah yang enam tersebut”[5].

5 ﴿

(Perkataan Abul Hasan al-Asy’ari)

Pimpinan Ahlussunnah Wal Jama’ah al-Imam Abul Hasan al-Asy’ari (w 324 H) mengatakan sebagai berikut:

كان الله ولا مكان فخلق العرش والكرسي ولم يحتج إلى مكان، وهو بعد خلق المكان كما كان قبل خلقه

[Maknanya]: “Allah ada tanpa permulaan dan tanpa tempat. Kemudian Dia menciptakan Arsy dan Dia tidak membutuhkan kepada tempat. Setelah Dia menciptakan tempat Dia ada seperti sedikala sebelum ada makhluk-Nya ada tanpa tempat”[6].

Dengan demikian dalam akidah Ahlussunnah sangat jelas bahwa Allah tidak membutuhkan kepada Arsy, kursi dan tempat. Perkataan al-Imam Abul Hasan al-Asy’ari ini ditulis oleh al-Hafizh al-Imam Ibn Asakir yang beliau kutip dari al-Qadli Abul Ma’ali al-Juwaini.

6 ﴿

(Ijma’ dikutip Oleh Abu Manshur al-Baghdadi)

Al-Imam Abu Manshur Abdul Qahir bin Thahir at-Tamimiy al-Baghdadi (w 429 H) menuliskan:

وأجمعوا (أي أهل السنة والجماعة) على أنه (أي الله) لا يحويه مكان ولا يجري عليه زمان

[Maknanya]: “Dan mereka semua (Ahlussunnah Wal Jama’ah) telah sepakat bahwa Dia (Allah) tidak diliputi oleh tempat dan waktu tidak berlaku bagi-Nya”[7].

7 ﴿

(Ijma’ dikutip Oleh Imam al-Haramain)

Imam al-Haramain Abdul Malik bin Abdullah al-Juwaini asy-Syafi’i ( w 478 H) berkata:

ومذهب أهل الحق قاطبة أن الله سبحانه وتعالى يتعالى عن التحيّز والتخصص بالجهات

[Maknanya]: “Madzhab Ahlul Haqq (Ahlussunnah Wal Jama’ah) seluruhnya adalah bahwa Allah maha suci dari bertempat dan dari menetap pada segala arah”[8].

8 ﴿

(Ijma’ dikutip Oleh al-Fakhr ar-Razi)

Al-Imam al-Mufassir  Fakhruddin ar-Razi (w 606 H) menuliskan:

انعقد الإجماع على أنه سبحانه ليس معنا بالمكان والجهة والحيّز

[Maknaya]: “Telah terjadi kesepakatan (Ijma’) bahwa Allah bersama kita bukan dalam makna tempat dan arah”[9].

[1] Shahih al-Bukhari; Kitab Bad’i al-Khalq.

[2] Abu Manshur al-Baghdadi, al-Farq Bayn al Firaq, h. 333

[3] Abu Manshur al-Baghdadi, al-Farq Bayn al Firaq, h. 333

[4] Abu Nu’aim, Hilyah al-Awliya’, j. 1, h. 73 dalam benyebutan biografi Ali ibn Abi Thalib.

[5] Al-Imam ath-Thahawi adalah salah salah seorang ulama Salaf terkemuka. Ia menulis risalah yang dikenal dengan al-‘Aqidah ath-Thahawiyyah. Dalam permulaan risalah ini beliau menuliskan: “Inilah penjelasan akidah Ahlussunnah Wal Jama’ah…”. Artinya bahwa apa yang ditulisnya ini merupakan akidah para sahabat, tabi’in dan tabi’i at-tabi’in. pernyataan al-Imam ath-Thahawi ini sangat penting untuk kita jadikan pegangan. Karena beliau disamping salah seorang ulama hadits terkemuka, juga seorang ahli fiqih dalam madzhab Hanafi. Tulisan beliau ini sangat penting untuk kita jadikan bantahan terhadap mereka yang mengatakan bahwa ulama Salaf berkeyakinan Allah bersemayam di atas Arsy, seperti pernyataan kaum Wahhabiyyah.

[6] Tabyin Kadzib al-Muftari, h. 150

[7] Al Farq Bain al Firaq, h. 333

[8] Al Irsyad, h. 58

[9] Tafsir ar Razi yang dikenal dengan nama at Tafsir al Kabir, j. 29, h. 216

SebelumnyaBagian 10 | Hadits Budak Perempuan Hitam (Hadîts al-Jâriyah as-Sawdâ’) Dan Penjelasan Allah Ada Tanpa Tempat SesudahnyaHADITS JIBRIL; DASAR-DASAR IMAN YANG ENAM (Iman Dengan Allah)

Tausiyah Lainnya