SEKILAS INFO
  • 5 bulan yang lalu / JADWAL KAJIAN AQIDAH TAUHID ASWAJA DR. KH. KHOLILURROHMAN, MA MASJID LATHIIFUSSALAAM – RS. BHAKTI ASIH KOTA TANGERANG SETIAP JUM’AT DAN MINGGU SETELAH SHALAT MAGHRIB PEMBAHASAN KITAB SYARH JAUHARATUTTAUHID
  • 5 bulan yang lalu / JADWAL KAJIAN MAJELIS SUBUH NURUL HIKMAH SETIAP HARI SETELAH SHALAT SUBUH KITAB YANG DI KAJI SAAT INI RIYADHU ASH-SHALIHIN
  • 5 bulan yang lalu / JADWAL KAJIAN TAUHID ASWAJA DR. KH. KHOLILURROHMAN, MA DI MASJID AL-MADINAH CBD CILEDUG KOTA TANGERANG SETIAP SABTU SETELAH SHALAT MAGHRIB KITAB SYARH MATAN AQIDATUL AWAM
JAM :

Biografi Ringkas Imam Abul Hasan al-Asy’ari | Imam Ahlussunnah Wal Jama’ah

Terbit 20 Mei 2021 | Oleh : Pondok Pesantren Nurul Hikmah | Kategori : Biografi Ulama
Biografi Ringkas Imam Abul Hasan al-Asy’ari | Imam Ahlussunnah Wal Jama'ah

Beliau adalah seorang Imam yang luas ilmunya (al-Imâm al-Habr), seorang yang sangat bertaqwa dan saleh (at-Taqiy al-Barr), pembela ajaran-ajaran Rasulullah (Nashir as-Sunnah), bendera/tiang/rujukan agama Islam (‘Alam ad-Din), dan syiar bagi orang-orang Islam (Syi’ar al-Muslimin), pemimpin Ahlussunnah Wal Jama’ah dan para teolog Islam (Syekh Ahlissunnah Wa al-Mutakallimin). Adalah al-Imâm Abul Hasan Ali bin Isma’il bin Abi Bisyr Ishaq bin Salim bin Isma’il bin Abdullah bin Musa bin Bilal bin Abi Burdah Amir bin Abi Musa al-Asy’ari. Maka al-Imâm Abul Hasan adalah keturunan sahabat Rasulullah; Abu Musa al-Asy’ari.

Al-Imâm Abul Hasan lahir pada tahun 260 H di Bashrah, pendapat lain mengatakan tahun 270 H. Tahun wafatnya diperselisihkan ulama. Satu pendapat mengatakan wafat tahun 333 H. Pendapat lain menyebutkan 324 H. Dan pendapat lainnya mengatakan wafat tahun 330 H. Beliau wafat di Baghdad. Dimakamkan di antara al-Karkhi dan Bab al-Bashrah[1].

Al-Imâm Abul Hasan adalah seorang yang berfaham Ahlussunnah. Berasal dari keluarga berpegangteguh dengan ajaran Ahlussunnah. Kemudian belajar faham Mu’tazilah kepada Abu ‘Ali al-Jubba’i, hingga mengikutinya dalam faham tersebut. Lalu beliau rujuk dan taubat dari faham Mu’tazilah tersebut. Beliau naik kursi di Masjid Jami’ di kota Bashrah di hari Jum’at, dengan suara yang sangat lantang beliau berkata:

من عرفني فقد عرفني ومن لم يعرفني فإني أعرفه بنفسي، أنا فلان بن فلان كنت أقول بخلق القرآن، وأن الله لا تراه الأبصار، وأن أفعال الشر أنا أفعلها، وأنا تائب مقلع، معتقد للرد على المعتزلة مخرج لفضائحهم ومعايبهم، إنما تغيبت عنكم هذه المدة؛ لأنى نظرت وتكافأت عندى الأدلة، ولم يترجح عندى شيء على شيء، فاستهديت الله تعالى، فهدانى إلى اعتقاد ما أودعته فى كتبى هذه، وانخلعت من جميع ما كنت أعتقده، كما انخلعت من ثوبى هذا. اهـ

“Siapa yang telah mengetahuiku maka ia telah tahu siapa aku. Dan siapa yang tidak mengetahuiku maka aku sendiri memperkenalkan kepadanya siapa aku. Aku adalah fulan bin fulan. Aku telah mengatakan (berfaham) al-Qur’an makhluk, bahwa Allah tidak dapat dilihat oleh mata, dan bahwa perbuatan buruk aku sendiri yang melakukannya (menciptakannya). Aku (sekarang) telah bertaubat dari faham tersebut dan telah aku lepaskan. Aku berkeyakinan untuk membantah faham Mu’tazilah, dan membuka segala kesatatan mereka dan segala aib mereka. Sesungguhnya aku menghilang dari kalian pada beberapa masa ini; karena aku memandang, hingga menumpuk / tumpang tindih bagiku berbagai dalil, sementara tidak ada dalil yang kuat bagiku perkara yang haq (benar) atas perkara yang batil, atau perkara batil atas perkara haq. Aku memohon petunjuk kepada Allah. Maka Allah memberi petunjuk kepadaku kepada keyakinan yang telah aku tuangkan dalam kitab-ku ini. Dan aku melepaskan diri seluruh apa yang talh aku yakini (dari faham-faham Mu’tazilah) sebagaimana aku melepaskan diri dari bajuku ini”[2]

Kemudian al-Imâm Abul Hasan melepaskan pakian luar yang ia kenakan dan melemparkannya, dan menyerahkan kitab hasil karya kepada orang banyak. Di antara kitab tersebut adalah “al-Luma’”, dan kitab berjudul “Kasyf al-Asrar Wa Hatk al-Astar”; kitab membongkar faham-faham sesat Mu’tazilah dan bantahan kuat terhadap mereka, serta beberapa kitab lainnya. Kaum Mu’tazilah ketika itu benar-benar telah tercorang muka dan sangat dipermalukan. Al-Hafizh Ibn ‘Asakir mengatakan bahwa al-Asy’ari bagi Mu’tazilah saat itu seperti seorang ahli kitab yang masuk Islam; ia membongkar habis kesesatan-kesesatan dan menampakan aib-aib yang telah ia yakini sebelumnya. Maka jadilah si-ahli kitab ini sangat dimusuhi oleh orang-orang yang sebelumnya menjadi pengikutnya dan mengagungkannya. Demikian pula dengan al-Asy’ari, yang semula ia seorang pemuka di kalangan Mu’tazilah, diagungkan, dan sebagai panutan bagi mereka, beliau berubah menjadi orang yang sangat dibenci oleh kaum Mu’tazilah[3].

Ash-Shayrafi berkata: “Adalah kaum Mu’tazilah telah mengangkat kepala-kepala mereka (sombong/merasa di atas angin dalam keyakinan mereka), hingga tampilah al-Asy’ari dan menjadikan meraka orang-orang kerdil (ciut nyalinya) yang dipenjarakan dalam biji-biji wijen”.

Al-Qadli ‘Iyadl al-Maliki menuliskan:

وصنف لأهل السنة التصانيف، وأقام الحجج على إثبات السنة، وما نفاه أهل البدع من صفات الله تعالى ورؤيته، وقدم كلامه، وقدرته، وأمور السمع الواردة. اهـ

“Beliau (Abul Hasan al-Asy’ari) talah menyusun berbagai karya bagi Ahlussunnah, mendirikan dalil-dalil untuk menetapkan ajaran Rasulullah, mendirikan apa yang dinafikan oleh para ahli bid’ah; seperti sifat-sifat Allah, melihat kepada Allah (oleh penduduk surga), Qidam-nya Kalam Allah (Qidam; tidak bermula), dan Qudrah-Nya, serta dalam beberapa perkara yang kebanarannya secara sam’i (naqli)”[4].

Al-Qadli ‘Iyadl juga berkata:

تعلق بكتبه أهل السنة، وأخذوا عنه، ودرسوا عليه، وتفقهوا في طريقه، وكثر طلبته وأتباعه، لتعلم تلك الطرق في الذب عن السنة، وبسط الحجج والأدلة في نصر الملة، فسموا باسمه، وتلاهم أتباعهم وطلبتهم، فعرفوا بذلك – يعني الأشاعرة – وإنما كانوا يعرفون قبل ذلك بالمثبتة، سمة عرفتهم بها المعتزلة؛ إذ أثبتوا من السنة والشرع ما نفوه. اهـ

“Ahlussunnah bergantung kepada kitab-kitab karya al-Asy’ari, meraka mengambil (faedah besar) darinya, mempelajari ajaran-ajarannya, memahami ajaran agama di atas jalannya, banyak murid-muridnya dan para pengikutnya yang mempelajari metodenya dalam membela ajaran-ajaran Rasulullah, menghamparkan argumen-argumen dan dalil-dalil dalam membela agama; sehingga mereka (Ahlussunnah) disandarkan kepada namanya, demikian pula orang-orang yang datang sesudah mereka dari para murid dan para pengikut mereka; sehingga mereka dikenal dengan sebutan namanya (kaum Asy’ariyyah). Sebelumnya mereka (kaum Asy’ariyyah) dikenal dengan sebutan golongan al-Mutsbitah (artinya; yang menetapkan). Penamaan demikian disematkan oleh kaum Mu’tazilah (untuk membedakan dua kelompok tersebut); karena mereka mentapkan apa yang dinafikan oleh kaum Mu’tazilah sendiri”[5].

Lalu Al-Qadli ‘Iyadl berkata:

فأهل السنة من أهل المشرق والمغرب، بحججه يحتجون، وعلى منهاجه يذهبون، وقد أثنى عليه غير واحد منهم، وأثنوا على مذهبه وطريقه. اهـ

“Maka kaum Ahlussunnah dari orang-orang yang ada di bagian timur dan orang-orang yang ada di bagian barat; mereka semua berdalil dengan dalil-dalilnya (al-Asy’ari), di atas ajarannya mereka berjalan. Beliau telah dipuji kaum Ahlusunnah tidak hanya oleh satu orang dari meraka. Mereka semua telah memuji madzhabnya dan jalannya”[6].

Al-Imâm Tajuddin Abdul Wahhab as-Subki berkata:

ذكر بيان أن طريقة الشيخ- يعني الأشعري- هي التي عليها المعتبرون من علماء الإسلام والمتميزون من المذاهب الأربعة في معرفة الحلال والحرام والقائمون بنصرة دين سيدنا محمد عليه أفضل الصلاة والسلام.

“Penyebutan penjelasan bahwa metode Syekh (Abul Hasan al-Asy’ari) adalah metode yang di atasnya (menjadi rujukan/pegangan) para ulama Islam, dan (pegangan) para ulama pilihan/istimewa dari ulama emat madzhab dalam mengetahui halal dan haram, serta menjadi rujukan bagi orang-orang yang berdiri membala ajaran agama Nabi Muhammad”[7]

Murid-murid al-Imâm Abul Hasan al-Asy’ari sangat banyak. Di antara tokoh-tokoh terdepan dari mereka seperti; al-Imâm Abul Hasan al-Bahili, al-Imâm Abu Abdillah ibn Mujahid, al-Imâm Abu Muhammad ath-Thabari yang populer dengan al-‘Iraqi, al-Imâm Abu Bakr al-Qaffal asy-Syasyi, al-Imâm Abu Sahl ash-Sha’luqi, dan lainnya.

Generasi kedua, yaitu orang-orang yang belajar kepada para pengikut / Ash-hab al-Asy’ari jauh lebih banyak lagi jumlah. Mereka menjadi tokoh-tokoh panutan umat Islam, seperti; al-Imâm al-Qadli Abu Bakr al-Baqilani, al-Imâm Abu ath-Thayyib ibn Abi Sahl ash-Sha’luqi, al-Imâm Abu Ali ad-Daqqaq, al-Imâm al-Hakim an-Naysaburi, al-Imâm Abu Bakr ibn Furak, al-Imâm Abu Nu’aim al-Ashbahani, dan lainnya. Secara global, para tokoh ulama dan para imam terkemuka dalam setiap generasi, dari masa ke masa, adalah orang-orang yang berada di atas jalan aqidah Asy’ariyyah.

Al-Imâm Abul Hasan al-Asy’ari telah banyak menyusun kitab. Beliau sangat produktif. Disebutkan lebih dari 200 judul karya yang telah beliau tulis.

Salah seorang ulama besar dan sangat terkemuka di masanya, yaitu al-Imâm Abu al-Abbas al-Hanafi; yang dikenal dengan sebutan Qadli al-Askar, adalah salah seorang Imam terkemuka di kalangan ulama madzhab Hanafi dan merupakan Imam terdahulu dan sangat senior hingga menjadi rujukan dalam disiplin Ilmu Kalam. Di antara pernyataan Qadli al-Askar yang dikutip oleh al-Hâfizh Ibn Asakir dalam kitab Tabyîn Kadzib al-Muftarî adalah sebagai berikut:

وقد وجدت لأبي الحسن الأشعري رضي الله عنه كتبا كثيرة في هذا الفن، وهي قريبة من مائتي كتاب والموجز الكبير يأتي على عامة ما في كتبه، وقد صنف الأشعري كتابا كبيرا لتصحيح مذهب المعتزلة، فإنه كان يعتقد مذهب المعتزلة في الابتداء ثم إن الله تعالى بين له ضلالهم، فبان عما اعتقده من مذهبهم وصنف كتابا ناقضا لما صنف للمعتزلة، وقد أخذ عامة أصحاب الشافعي بما استقر عليه مذهب أبي الحسن الأشعري، وصنف أصحاب الشافعي كتبا كثيرة على وفق ما ذهب إليه الأشعري.

“Dan saya telah menemukan kitab-kitab hasil karya Abul Hasan al-Asy’ari sangat banyak sekali dalam disiplin ilmu ini (Ilmu Usuluddin), hampir mencapai dua ratus karya, yang terbesar adalah karya yang mencakup ringkasan dari seluruh apa yang beliau telah tuliskan. Di antara karya-karya tersebut banyak yang beliau tulis untuk meluruskan kesalahan madzhab Mu’tazilah. Memang pada awalnya beliau sendiri mengikuti faham Mu’tazilah, namun kemudian Allah memberikan pentunjuk kepada beliau tentang kesesatan-kesesatan mereka. Demikian pula beliau telah menulis beberapa karya untuk membatalkan tulisan beliau sendiri yang telah beliau tulis dalam menguatkan madzhab Mu’tazilah terhadulu. Di atas jejak Abul Hasan ini kemudian banyak para pengikut madzhab asy-Syafi’i yang menapakkan kakinya. Hal ini terbukti dengan banyaknya para ulama pengikut madzhab asy-Syafi’i yang kemudian menulis banyak karya teologi di atas jalan rumusan Abul Hasan”[8].

Al-Qâdlî Ibnu Farhun al-Maliki dalam kitab ad-Dîbâj al-Mudzhhab dalam penulisan biografi al-Imâm Abul Hasan al-Asy’ari, menuliskan:

كان مالكيا صنف لأهل السنة التصانيف وأقام الحجج على اثبات السنن وما نفاه أهل البدع. اهـ

“Beliau adalah seorang bermadzhab Maliki (dalam fiqh), menulis bagi Ahlussunnah beberapa karya, mendirikan dalil-dalil untuk menetapkan sunnah-sunnah dan apa yang dinafikan oleh para ahli bid’ah”[9].

Di bagian lain dalam kitab yang sama al-Qadli Ibnu Farhun berkata:

فأقام الحجج الواضحة عليها من الكتاب والسنة والدلائل الواضحة العقلية، ودفع شبه المعتزلة ومن بعدهم من الملحدة، وصنف في ذلك التصانيف المبسوطة التي نفع الله بها الأمة، وناظر المعتزلة وظهر عليهم، وكان أبو الحسن القابسي يثني عليه وله رسالة في ذكره لمن سأله عن مذهبه فيه أثنى عليه وأنصف، وأثنى عليه أبو محمد بن أبي زيد وغيره من أئمة المسلمين. اهـ

“Maka ia (Abul Hasan) mendirikan dalil-dalil yang jelas di atasnya dari al-Qur’an dan Sunnah, serta dalil-dalil aqli yang jelas. Memerangi kesesatan-kesesatan Mu’tazilah dan orang-orang sesudah mereka dari kaum Mulhid (orang-orang kafir). Dalam hal itu (Ilmu Kalam) beliau telah menyusun beberapa karya yang luas yang dengannya Allah memberikan manfaat terhadap umat. Beliau mendebat Mu’tazilah, dan tampil (menaklukan) atas mereka. Dan Abul Hasan al-Qabisi memujinya (al-Asy’ari), dan baginya telah menulis risalah dalam biografinya bagi siapa yang ingin tahu tentang madzhabnya. Al-Qabisi memuji al-Asy’ari dan telah mendudukannya secara proporsional. Juga, al-Asy’ari telah telah dipuji oleh Abu Muhammad ibn Abi Zaid, dan oleh lainnya dari para Imam orang-orang Islam”[10].

Asy-Syaikh Abu Abdillah ath-Thalib ibn Hamdun al-Maliki dalam Hasyiyah-nya menuliskan tentang al-Imâm Abul Hasan al-Asy’ari:

إنه أول من تصدى لتحرير عقائد أهل السنة وتلخيصها ودفع الشكوك والشبه عنها وإبطال دعوى الخصوم. اهـ

“Sesungguhnya beliau (al-Asy’ari) adalah orang yang pertamakali bergelut dalam menertibkan (edit) akidah-akidah Ahlussunnah dan memformulasikannya, memberangus berbagai keraguan dan syubhat-syubhat (kesesatan), dan meruntuhkan tuduhan-tuduhan (faham rusak) dari para musuh (di luar Ahlussunnah)”[11].

 

[1] Lengkap biografi al-Asy’ari lihat Ibnu ‘Asakir, Tabyin Kadzib al-Muftari, h. 25-45. As-Subki, Thabaqat asy-Syafi’iyyah, j. 3, h. 360

[2] Ibnu ‘Asakir, Tabyin Kadzib al-Muftari, h.39

[3] Ibnu ‘Asakir, Tabyin Kadzib al-Muftari, h. 40

[4] Al-Qadli ‘Iyadl, Tartib al-Madarik, j. 5, h. 24

[5] Al-Qadli ‘Iyadl, Tartib al-Madarik, j. 5, h. 25

[6] Al-Qadli ‘Iyadl, Tartib al-Madarik, j. 5, h. 25

[7] Idlah al-Burhan fi ar-Radd ‘ala Ahl az-Zaygh wa ath-thughyan, h.

[8]  Ibn Asakir, Tabyîn Kadzib al-Muftarî, h. 139-140

[9] Ibn Farhun, ad-Dibaj al-Mudzahhab Fi Ma’rifah A’yan ‘Ulama’ al-Madzhab, h. 194

[10] Ibn Farhun, ad-Dibaj al-Mudzahhab Fi Ma’rifah A’yan ‘Ulama’ al-Madzhab, h. 194

[11] Ibn Hamdun, Hasyiyah Ibn Hamdun ‘Ala Mayyarah, h. 16

___________________________

Bantahan Terhadap Tuduhan Adanya Tiga Fase Faham al-Imâm al-Asy’ari

Ada sebagian orang, tepatnya bersumber dari kaum Wahabi, mengatakan bahwa al-Imâm Abul Hasan melewati tiga fase faham (ajaran) dalam hidupnya. Pertama; fase faham Mu’tazilah. Dua; fase mengikuti faham Abdullah ibn Sa’id ibn Kullab. Dan ke tiga; fase kembali kepada faham Salaf dan Ahlussunnah Wal Jama’ah. Mereka mengatakan bahwa di akhir hidupnya hingga wafat, al-Asy’ari kembali kepada ajaran Salaf. Fase ke tiga ini menurut mereka al-Asy’ari telah benar-benar menjadi seorang yang berfaham Ahlussunnah.

Lanjutan tuduhan mereka ini kemudian mengatakan bahwa kaum Asy’ariyyah (para pengikut al-Imâm Abul Hasan) mengikuti al-Imâm Abul Hasan hanya dalam fase kedua dari fahamnya, yaitu fase mengikuti faham Abdullah ibn Sa’id ibn Kullab. Kaum Asy’ariyyah tidak mengikuti al-Asy’ari di fase ke tiga. Karena itu, menurut mereka, kaum Asy’ariyyah ini tidak layak disebut Ahlussunnah Wal Jama’ah. Tuduhan ini banyak disebarkan dalam berbagai tulisan orang-orang Wahabi.

Tuduhan ini sangat mengelitik, dan patut kita kritisi. Ada banyak kemugkinan latar belakang timbulnya kesimpulan pembagian faham al-Asy’ari kepada tiga bagian di atas, sebagai berikut;

(Pertama); Tujuan utama faham pembagian fase tersebut adalah untuk menetapkan tuduhan bahwa kaum Asy’ariyyah adalah orang-orang sesat, bukan Ahlussunnah, para pengikut faham Mu’tazilah; atau dalam istilah mereka Afrakh al-Mu’tazilah (cicit-cicit Mu’tazilah), dan berbagai tuduhan lainnya.

(Dua); Mereka hendak menetapkan bahwa al-Imâm Abul Hasan al-Asy’ari sepaham dengan mereka. Yaitu, –menurut mereka– berfaham Salaf [ala Wahabi]; sangat anti takwil dalam memahami teks-teks mutasyabihat. Sementara kaum Asy’ariyyah menurut mereka tidak sepaham dengan Imam mereka sendiri. Kesimpulannya; al-Imâm Abul Hasan lurus, di atas kebenaran. Sementara kaum Asy’ariyyah; sesat, bukan Ahlussunnah dan bukan di atas ajaran Salaf, bahkan mereka adalah orang-orang kafir. Alasannya; karena kaum Asy’ariyyah telah memberlakukan takwil terhadap teks-teks mutasyabihat.

(Tiga); Mereka hendak menyebarkan faham tasybih dan faham anti takwil, yang mereka bungkus dengan nama ajaran Salaf. Untuk itu mereka berani mereduksi (merubah) isi karya-karya al-Asy’ari, seperti yang akan anda lihat dalam catatan di bawah ini. Salah satunya, karya al-Asy’ari berjudul al-Ibanah Fi Ushul ad-Diyanah yang dirombak menjadi berfaham tasybih dan tajsim.

(Empat); Pembagian tiga fase faham al-Imâm al-Asy’ari di atas memberikan kesimpulan bahwa Abdullah ibn Sa’id ibn Kullab bukan seorang yang berfaham Ahlussunnah Wal Jama’ah. Artinya, menurut mereka beliau adalah seorang yang sesat. Ini mengaburkan pemahaman umat Islam, utamanya mereka yang tidak kenal siapa sesungguhnya Abdullah ibn Sa’id ibn Kullab.

(Lima); Membuat opini di kalangan umat Islam dan menggiring mereka, utamanya orang-orang awam, agar mengikuti faham mereka; bahwa kaum Asy’ariyyah –menurut mereka– adalah orang-orang sesat yang wajib dihindari. Inilah tujuan utama mereka, yaitu untuk “berjualan”, membuat propaganda untuk menyebarkan faham mereka.

Tuduhan menyesatkan (syubhat) kaum Musyabbihah Mujassimah di atas kita bantah dengan beberapa catatan berikut;

(Satu); al-Imâm Abul Hasan al-Asy’ari adalah tokoh Ahlussunnah Wal Jama’ah. Nama, akidah (keyakinan), dan rumusan ajaran Ahlussunnah yang beliau bukukan telah ditulis dengan tinta emas oleh murid-murid beliau, oleh para ahli sejarah (al-Mu’arrikhun), dan oleh para ulama di setiap generasi sesudahnya.

(Dua); Bahwa al-Imâm Abul Hasan al-Asy’ari semula seorang berfaham Mu’tazilah, bahkan menjadi tokoh panutan dan rujukan di kalangan orang-orang Mu’tazilah; ini benar adanya. Tidak ada seorang-pun dari murid-murid Abul Hasan (Ash-hab al-Asy’ari) yang telah mencatatkan bahwa beliau wafat dan telah bertaubat dari faham fase ke dua (faham Abdullah ibn Sa’id ibn Kullab; seperti prasangka kaum Musyabbihah Mujassimah). Tidak ada seorangpun dari murid-murid al-Asy’ari yang mengatakan bahwa guru mereka telah bertaubah dari faham metode takwil. Tidak ada seorang-pun dari mereka mengatakan bahwa al-Asy’ari berkeyakinan Allah memiliki bentuk dan ukuran, memiliki tempat dan arah, bertempat di langit; juga bertempat di arsy, serta memiliki anggota-anggota badan seperti yang mereka tuduhkan. Silahkan anda cek catatan / karya-karya Ash-hab al-Asy’ari.

(Tiga); al-Imâm Abul Hasan al-Asy’ari tidak pernah mengikrarkan diri bertaubat bahwa ia keluar dari faham Abdullah ibn Sa’id ibn Kullab –seperti yang disangka / dikhayalkan kaum Musyabbihah Mujassimah– sebagaimana beliau berikrar taubat dari faham Mu’tazilah. Sejarah tidak pernah mencatat prasangka kaum Musyabbihah Mujassimah itu. Al-Asy’ari tidak bernah berkata; “Saya berada dalam faham fase ke dua (model faham Abdullah ibn Sa’id ibn Kullab), dan faham ini adalah sesat, karena itu saya pindah ke fase ke tiga (faham Salaf, seperti prasangka kaum Musyabbihah)”. Sejarah tidak pernah mencatat ini, bahkan sebatas isyarat-pun tidak ada.

(Empat); Tidak ada seorang-pun murid dari murid-murid al-Asy’ari yang mencatatkan bahwa al-Asy’ari wafat dalam keadaan telah taubat dari faham metode takwil. Tidak ada seorang-pun dari mereka mengatakan bahwa al-Asy’ari berkeyakinan Allah memiliki bentuk dan ukuran, memiliki tempat dan arah, bertempat di langit; juga bertempat di arsy, serta memiliki anggota-anggota badan seperti yang mereka tuduhkan. Silahkan anda cek catatan / karya-karya para ulama dari murid-murid al-Imâm al-Asy’ari. Perhatikan pernyataan al-Imâm Ibn Furak ini:

انتقل الشيخ أبو الحسن علي بن إسماعيل رضي الله عنه من مذاهب المعتزلة إلى نصرة مذاهب أهل السنة والجماعة بالحجج العقلية وصنف في ذلك الكتب. اهـ

“Syekh Abul Hasan Ali ibn Isma’il al-Asy’ari pindah dari ajaran-ajaran Mu’tazilah kepada membela ajaran-ajaran Ahlussunnah Wal Jama’ah dengan argumen-argumen akal, yang dalam hal itu beliau menyusun kitab-kitab”[1].

Al-Imâm Ibn Furak tidak mengatakan; al-Asy’ari pindah kepada fase faham ke dua.

(Lima); Tidak ada seorang-pun dari para ahli sejarah (al-Mu’-arrikhun) yang menuliskan bahwa al-Asy’ari wafat dalam telah kembali kepada ajaran Salaf [versi wahabi / Musyabbihah / Mujassimah, atau dari keadaan telah taubat dari faham metode takwil. Yang benar adalah bahwa keluarnya al-Imâm al-Asy’ari dari faham Mu’tazilah adalah untuk membela ajaran Salaf saleh. Dan beliau tidak tetap meyakini ajaran Salaf tersebut sampai akhir hayatnya. Perhatikan catatan Ibnu Khalikan dalam Wafayat al-A’yan berikut ini:

هو صاحب الأصول والقائم بنصرة مذهب السنة، وكان أبو الحسن أولا معتزليا ثم تاب من القول بالعدل وخلق القرءان في المسجد الجامع بالبصرة يوم الجمعة. اهـ

“Beliau (al-Asy’ari) adalah seorang ahli Ushul (teolog), dan seorang yang berdiri membela madzhab Ahlussunnah. Awalnya, Abul Hasan adalah seorang berfaham Mu’tazilah, kemudian bertaubat dari faham / teori “keadilan” (yang menetapkan adanya kewajiban bagi Allah) dan dari faham al-Qur’an makhluk di masjid jami’ di Basrah pada hari jum’at”.[2]

(Enam); Sejarah mencatat bahwa setelah al-Imâm al-Asy’ari keluar dari faham Mu’tazilah beliau sejalan dengan pendapat Abdullah ibn Sa’id ibn Kullab, al-Qalanisi, dan al-Muhasibi. Dan sesungguhnya mereka semua adalah para ulama yang berada di atas ajaran Salaf saleh. Perhatikan tulisan Ibnu Khaldun berikut ini:

إلى أن ظهر الشيخ أبو الحسن الأشعري وناظر بعض مشيختهم -أي المعتزلة- في مسائل الصلاح والأصلح فرفض طريقتهم، وكان على رأي عبد الله بن سعيد بن كلاب والقلانسي والحارث المحاسبي من أتباع السلف وعلى طريقة السنة. اهـ

“Hingga tampilah Syekh Abul Hasan al-Asy’ari, ia membantah pemuka-pemuka Mu’tazilah dalam masalah ash-Shalah wa al-Ash-lah maka ia menolak faham mereka. Dan adalah beliau di atas pendapat Abdullah ibn Sa’id ibn Kullab, al-Qalanisi, dan al-Harits al-Muhasibi; dari para pengikut Salaf dan di atas ajaran Ahlussunnah”[3].

(Tujuh); Semua ahli sejaran (al-Mu’arrikhun) mencatat bahwa al-Asy’ari pindah dari faham Mu’tazilah kepada faham Ahlussunnah ajaran Salaf saleh. Demikian dicatat oleh al-Khathib al-Baghdadi dalam Tarikh Baghdad, Tajuddin as-Subki dalam Thabaqat asy-Syafi’iyyah al-Kubra, Ibnul ‘Imad dalam Syadzarat adz-Dzahab Fi Akhbar Man Dzahab, Ibnul Atsir dalam al-Kamil Fi at-Tarikh, Ibnu ‘Asakir dalam Tabyin Kadzib al-Muftari, al-Qadli ‘Iyadl dalam Tartib al-Madarik, Ibnu Qadli Syubhah dalam Thabaqat asy-Syafi’iyyah, al-Isnawi dalam Thabaqat asy-Syafi’iyyah, Ibnu Farhun dalam ad-Dibaj al-Mudzahhab, al-Yafi’i dalam Mir’at al-Janan, dan lainnya. Sangat tidak masuk akal, jika benar ada fase ke tiga dari faham al-Asy’ari lalu luput dari catatan para ahli sejarah di atas!

Bahkan, al-Qadli Abu Bakr al-Baqilani yang notebene pembela ajaran-ajaran al-Asy’ari, dalam karya-karyanya seperti al-Inshaf dan at-Tamhid tidak ada “secuil”-pun menyebutkan bahwa ada fase ke tiga dari faham aqidah al-Asy’ari. Lihat pula karya-karya Ibnu Furak, al-Qaffal asy-Syasyi, Abu Ishaq asy-Syirazi, al-Bayhaqi; juga tidak ada sedikitpun menyinggung adanya fase ke tiga dari perjalan keyakinan al-Asy’ari.

(Delapan); Siapa sesungguhnya Abdullah ibn Sa’id ibn Kullab? Jawabnya adalah beliau seorang Imam terkemuka di kalangan Ahlussunnah Wal Jama’ah yang sangat kuat membantah dan melumpuhkan faham-faham Mu’tazilah dan Musyabbihah Mujassimah. Karena itu beliau sangat dibenci oleh kaum Mu’tazilah dan Musyabbihah sekaligus. Terutama kaum Musyabbihah yang sangat anti terhadap takwil, oleh karena Abdullah ibn Sa’id ibn Kullab ini mempergunakan metode takwil dalam memahami teks-teks mutasyabihat.

Al-Imâm Tajuddin as-Subki dalam Thabaqat asy-Syafiyyah tentang Abdullah ibn Sa’id ibn Kullab menuliskan:

وابن كلاّب على كل حال من أهل السنة، ورأيت الإمام ضياء الدين الخطيب والد الإمام فخر الدين الرازي قد ذكر عبد الله بن سعيد في آخر كتابه غاية المرام في علم الكلام فقال: ومن متكلمي أهل السنة في أيام المأمون عبدالله بن سعيد التميمي الذي دمّر المعتزلة في مجلس المأمون وفضحهم ببيانه. اهـ

“Kesimpulannya, Ibnu Kullab adalah dari kaum Ahlussunnah. Dan aku telah melihat al-Imâm Dliya’uddin al-Khathib; ayahanda al-Imâm al-Fakhruddin ar-Razi telah menyebutkan prihal Abdullah ibn Sa’id ibn Kullab di akhir kitabnya “Ghayah al-Maram Fi ‘Ilm al-Kalam”, berkata: Di antara teolog Ahlussunnah di masa al-Ma’mun adalah Abdullah ibn Sa’id at-Tamimi yang telah menghancurkan kaum Mu’tazilah di majelis al-Ma’mun, dan telah menelanjangi mereka dengan penjelasannya”.[4]

Al-Imâm Al-Hafizh Ibn Asakir dalam kutipannya dari al-Imâm Abu Zaid al-Qayrawani, bahwa beliau berkata:

ما علمنا من نسب إلى ابن كلاّب البدعة، والذي بلغنا أنه يتقلّد السنة ويتولّى الردَّ على الجهمية وغيرهم من أهل البدع. اهـ

“Kami tidak mengetahui adanya orang yang menyandarkan Ibnu Kullab kepada perkara bid’ah. Berita yang sampai kepada kami beliau adalah pengikut ajaran Ahlussunnah, dan orang terdepan yang membantah faham Jahmiyyah dan lainnya dari kelompok ahli bid’ah”.[5]

Ibnu Qadli Syubhah dalam Thabaqat asy-Syafi’iyyah tentang biografi Abdullah ibn Sa’id ibn Kullab di antara tulisannya adalah sebagai berikut:

من كبار الْمُتَكَلِّمين وَمن أهل السّنة وبطريقته وَطَرِيقَة الْحَارِث المحاسبي اقْتدى أَبُو الْحسن الْأَشْعَرِيّ. اهـ

“Beliau adalah di antara teoog terkemuka, dan dari kaum Ahlussunnah, dan Abul Hasan mengikuti metodenya, juga mengikuti metode al-Harits al-Muhasibi [dalam membela ajaran Ahlussunnah]”.[6]

Catatan dan penilaian yang sama juga telah dituliskan oleh Ibnu Khaldun dalam kitab al-Muaqaddimah tentang al-Imâm Abdullah ibn Sa’id ibn Kullab, sebagaimana telah kita kutip di atas.

Al-Muhddits Zahid al-Kawtsari dalam ta’liq-nya terhadap kitab Tabyin Kadzib al-Muftari menuliskan:

كان إمام متكلمة السنة في عهد أحمد، وممن يرافق الحارث بن أسد، ويشنع عليه بعض الضعفاء في أصول الدين. اهـ

“Beliau (Abdullah ibn Sa’id ibn Kullab) adalah Imam para ulama yang membela Sunnah (ajaran Rasulullah / Ahlussunnah) di masa Ahmad. Beliau di antara yang bersahabat dengan al-Harits ibn Asad al-Muhasibi). Orang-orang yang lemah dalam aqidah telah mencelanya”.[7]

Syekh Jamaluddin al-Isnawi dalam Thabaqat asy-Syafi’iyyah menuliskan tentang sosok Abdullah ibn Sa’id ibn Kullab:

كان من كبار المتكلمين ومن أهل السنة، ذكره العبادي في طبقة أبي بكر الصيرفي، قال؛ إنه من أصحابنا المتكلمين. اهـ

“Beliau adalah di antara teolog terkemuka, dari kalangan Ahlussunnah, al-Ibadi telah menyebutkannya di thabaqah Abu Bakr ash-Shayrafi, berkata: Beliau adalah di antara sahabat kita dari kalangan Mutakallimin (teolog)”[8].

Al-‘Allamah Kamaluddin al-Bayyadli dalam Isyarat al-Maram menuliskan:

لأن الماتريدي مفصل لمذهب الإمام (يعني أبا حنيفة) وأصحابه المظهرين قبل الأشعري لمذهب أهل السنة، فلم يخل زمان من القائمين بنصرة الدين وإظهاره، وقد سبقه (يعني الأشعري) أيضا في ذلك (أي في نصرة مذهب أهل السنة والجماعة) الإمام عبد الله بن سعيد القطان. اهـ

“… karena al-Maturidi telah merinci (menjelaskan) bagi madzhab al-Imâm Abu Hanifah dan para sahabatnya yang telah memunculkan madzhab Ahlussunnah sebelum al-Asy’ari. Maka tidak pernah sunyi masa dari orang-orang yang berdiri membela agama dan menyiarkannya. Dan juga terdahulu pula sebelum al-Asy’ari dalam membela madzhab Ahlussunnah oleh al-Imâm Abdullah ibn Sa’id ibn Kullab al-Qaththan”.[9]

Teolog Ahlussunnah terkemuka (al-Mutakallim) Abul Fath Asy-Syahrastani dalam kitab al-Milal Wa an-Nihal berkata:

حتى انتهى الزمان إلى عبد الله بن سعيد الكلابي وأبي العباس القلانسي والحارث بن أسد المحاسبي وهؤلاء كانوا من جملة السلف إلا أنهم باشروا علم الكلام وأيدوا عقائد السلف بحجج كلامية وبراهين أصولية. اهـ

“Hingga sampailah zaman ke masa Abdullah ibn Sa’id al-Kullabi, Abul Abbas al-Qalanisi, dan al-Harits ibn Asad al-Muhasibi, dan mereka semua adalah dari golongan Salaf, hanya saja mereka menggeluti Ilmu Kalam dan membela aqidah Salaf dengan dalil-dalil teologis, dan argumen-argumen ushul”.[10]

Bahkan tidak hanya al-Imâm Abul Hasan al-Asy’ari yang sejalan dengan metode al-Imâm Abdullah ibn Sa’id  ibn Kullab dalam meneguhkan argumen-argumen aqidah Ahlussunnah Wal Jama’ah. jauh sebelumnya, metode Ibn Kullab juga telah dipraktekan oleh al-Imâm al-Bukhari. Simak catatan al-Hafizh Ibn Hajar berikut ini:

البخاري في جميع ما يورده من تفسير الغريب إنما ينقله عن أهل ذلك الفن كأبي عبيدة والنضر بن شميل والفراء وغيرهم، وأما المباحث الفقهية فغالبها مستمدة له من الشافعي وأبي عبيد وأمثالهما، وأما المسائل الكلامية فأكثرها من الكرابيسي وابن كلاب ونحوهما. اهـ

“al-Bukhari dalam seluruh apa yang ia datangkan dari tafsir gharib (asing) adalah ia mengutipnya dari para ahli pada bidang itu seperti Abu Ubaid, an-Nadlr ibn Syamil, al-Farra’ dan lainnya. Sementara dalam pembahasan-pembahasan fiqh maka umumnya beliau (al-Bukhari) mengambil rederensi dari asy-Syafi’i, Abu Ubaid, dan semacam keduanya. Adapun dalam masalah-masalah Kalam (teologi) maka kebanyakannya mengambil dari al-Karabisi, Ibn Kullab, dan semacam keduanya”.[11]

 

[1] Ibnu ‘Asakir, Tabyin Kadzib al-Muftari, h. 127

[2] Ibn Khalikan, Wafayat al-A’yan, j. 3, h. 284

[3] Ibn Khaldun, al-Muqaddimah, h. 853

[4] Tajuddin as-Subki, Thabaqat asy-Syafi’iyyah, j. 2, h 300

[5] Ibnu ‘Asakir, Tabyin Kadzib al-Muftari, h. 406

[6] Ibnu Qadli Syubhah, Thabaqat asy-Syafi’iyyah, j. 1, h. 78

[7] Ibnu ‘Asakir, Tabyin Kadzib al-Muftari, h. 405

[8] Al-Isnawi, Thabawat asy-Syafi’iyyah, j. 2, h. 178

[9] Kamaluddin al-Bayyadli, Isyarat al-Maram Min ‘Ibarat al-Imâm, h. 23

[10] Asy-Syahrastani, al-Milal Wa an-Nihal, h. 81

[11] Ibnu Hajar al-‘Asqalani, Fath al-Bari’, j. 1, h. 293

SebelumnyaBeberapa Masalah Seputar Shalat Dan Dzikir SesudahnyaPara Ulama Memerangi Ibnu Taimiyah

Tausiyah Lainnya