SEKILAS INFO
  • 5 bulan yang lalu / JADWAL KAJIAN AQIDAH TAUHID ASWAJA DR. KH. KHOLILURROHMAN, MA MASJID LATHIIFUSSALAAM – RS. BHAKTI ASIH KOTA TANGERANG SETIAP JUM’AT DAN MINGGU SETELAH SHALAT MAGHRIB PEMBAHASAN KITAB SYARH JAUHARATUTTAUHID
  • 5 bulan yang lalu / JADWAL KAJIAN MAJELIS SUBUH NURUL HIKMAH SETIAP HARI SETELAH SHALAT SUBUH KITAB YANG DI KAJI SAAT INI RIYADHU ASH-SHALIHIN
  • 5 bulan yang lalu / JADWAL KAJIAN TAUHID ASWAJA DR. KH. KHOLILURROHMAN, MA DI MASJID AL-MADINAH CBD CILEDUG KOTA TANGERANG SETIAP SABTU SETELAH SHALAT MAGHRIB KITAB SYARH MATAN AQIDATUL AWAM
JAM :

HADITS JIBRIL; DASAR-DASAR IMAN YANG ENAM (Iman Dengan Allah)

Terbit 18 Juni 2021 | Oleh : Pondok Pesantren Nurul Hikmah | Kategori : Catatan Aqidah
HADITS JIBRIL; DASAR-DASAR IMAN YANG ENAM (Iman Dengan Allah)
IMAN DENGAN ALLAH Dalam QS. al-Ikhlash Allah berfirman:

قُلْ هُوَ اللهُ أَحَد(1) اللهُ الصَّمَد (2) لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُوْلَد (3) وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًاأحَد (4)(سورة الاخلاص 1-4)

“Katakan (wahai Muhammad), Dialah Allah al-Ahad (Tidak terbagi-bagi dan tidak ada sekutu bagi-Nya, baik pada Dzat-Nya, sifat-sifat-Nya,maupun pada perbuatan-Nya). Allah adalah Tuhan yang Maha Kaya (Tidakmembutuhkan) kepada semua makhluk-Nya, dan segala sesuatu membutuhkan kepada-Nya. Diatidak beranak dan tidak diperanakkan. Dan tidak ada sesuatupun yang menyerupai-Nya (Baik darisatu segi maupun semua segi)”. (QS. al-Ikhlas: 1-4) Ma’rifatullah adalahberkeyakinan bahwa Allah maha Ada, tidak menyerupai sesuatu apapun dari alamini. Dia bukan Hajm Katsif; benda yang dapat disentuh oleh tangan, jugabukan Hajm Lathif; benda yang tidak bisa disentuh oleh tangan. Allah bukansesuatu yang berbentuk, baik bentuk dengan ukuran kecil maupun ukuran besar. Adapunmakna “Allahu Akbar” artinya bahwa Allah Maha Besar dan Maha Agung pada derajat-Nya,bukan besar dari segi bentuk dan ukuran. Allah adalah Dzat yang tidak bisadibayangkan dalam hati, dan tidak dapat dibayangkan oleh akal pikiran manusia. Sifat-SifatAllah  (Tafsir QS. al-Ikhlas) Dalam sebuah hadits riwayat al-Hafizh al-Baihaqi dari sahabat ‘Abdullahibn ‘Abbas bahwa segolongan kaum Yahudi datang kepada Rasulullah. Merekaberkata: “Wahai Muhammad, beritahukan kepada kami sifat Tuhanmu yang engkausembah!”. Mereka bertanya bukan karena ingin mengetahui hal sebenarnya atau inginmemperoleh petunjuk, tapi hanya sekedar ingin mengingkari lalumengolok-oloknya. Kemudian turunlah QS. al-Ikhlas ayat 1 hingga ayat 4.  Rasulullah bersabda: “Inilah sifat Tuhanku”. Surat al-Ikhlas initurun sebagi jawaban atas pertanyaan orang-orang Yahudi tersebut. Meskipunhanya terdiri dari empat ayat yang pendek namun mengandung makna yang sangatluas dan mendalam dalam ketauhidan Allah. Ayat pertama merupakan ikrar dan penegasan bahwa tidak ada sekutu bagiAllah. Artinya tidak ada keserupaan bagi-Nya. Dia Maha Esa pada dzat-Nnya. Makna“Dzat Allah” artinya “hakikat Allah”. Makna “Dzat” di sini bukan dalampengertian bentuk atau benda. Pengertian bahwa Dzat Allah Esa ialah bahwa DzatAllah tidak menyerupai dzat-dzat makhluk-Nya. Karena Dzat Allah azali; adatanpa permulaan, sedangkan dzat-dzat selain-Nya baharu; memiliki permulaan,yaitu ada dari tidak ada. Oleh karena itu, Allah mensifati dzat-Nya sendiri dalam al-Qur’andengan firman-Nya:

هُوَ الأوَّلُ (الحديد:4)

“Hanya Dia (Allah) al-Awwal (ada tanpa permulaan)”. (QS. al-Hadid:4) Kemudian Allah maha Esa padaSifat-Sifat-Nya. Artinya bahwa sifat-sifat Allah tidak menyerupai sifat-sifatmakhluk-Nya. Allah berfirman:

وَللهِ المَثَلُ الأعْلَى(النحل:6)

“Dan bagi Allah sifat-sifat yang tidak menyerupai sifat selain-Nya”.(QS.an-Nahl: 6) Sebagaimanakita wajib meyakini bahwa Dzat Allah Azali; tidak bermula, maka demikianpula dengan semua Sifat-Sifat-Nya, kita wajib meyakini itu semua Azali. Karenamustahil bila ada dzat yang qadim dan azali, sementarasifat-sifat-nya baharu. Karena adanya sifat yang baharu pada suatu dzatmenunjukkan bahwa dzat tersebut  juga baharu.Dengan demikian mustahil bagi Allah mempunyai sifat-sifat yang baharu. Bilasifat-sifat manusia setiap saat dapat mengalami perubahan, maka tidak demikianhalnya dengan sifat-sifat Allah. Dia tidak mengalami perubahan atauperkembangan, tidak bertambah atau berkurang. Kemudian Allah Maha Esa pada perbuatan-Nya. Artinya, tidak ada dzat yangdapat menciptakan sesuatu dari “tidak ada” menjadi “ada” kecuali Allah saja. HanyaAllah pencipta segala sesuatu. Dia pencipta kebaikan dan kejahatan, keimanandan kekufuran, keta’atan dan kemaksiatan. Dia pencipta semua benda, mulai dari bendaterkecil, yaitu dzarrah; (Ialah benda yang berterbangan terlihat olehmata dalam sinar matahari), hingga benda yang paling besar, yaitu ‘arsy. Diapencipta segala perbuatan manusia, baik perbuatan yang mengandung unsur ikhtiar(al-Af’al al-Ikhtiyariyyah), seperti makan, minum, dan lainnya, ataupunperbuatan yang tidak mengandung unsur ikhtiar (al-Af’al al-Idlthirariyyah),seperti detak jantung, rasa takut, dan lainnya. Inilah makna yang tersiratdalam firman Allah:

قُلْ إنَّ صَلاَتِي وَنُسُكِيوَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي للهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ (الأنعام:152)

“Katakanlah (Wahai Muhammad): Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku danmatiku hanyalah milik Allah, Tuhan seluruh alam”.(QS. al-An’am:162) Shalat dan ibadah adalah dua diantara perbuatan-perbuatan  yang mengandung unsur usaha, ikhtiar dankehendak dari manusia. Sedangkan hidup dan mati adalah sesuatu yang terjadi diluar kehendak manusia, keduanya hanya menjadi wewenang dan kehendak Allah.Dalam doa tersebut ditegaskan bahwa shalat dan ibadah, serta hidup dan mati,pada hakikatnya adalah milik Allah dan hanya dicitakan hanya oleh Allah saja. Ayat kedua dari surat QS. al-Ikhasdi atas mengandung makna bahwa Allah Maha Kuasa atas seluruh alam ini. Diatidak membutuhkan kepada sesuatu apapun dari makhluk-Nya. Sebaliknya, seluruhmakhluk-Nya selalu membutuhkan kepada-Nya. Allah tidak mengambil manfaat sedikitpun dari perbuatan-perbuatanmakhluk-Nya, dan mereka sedikitpun tidak dapat mencelakakan-Nya atau membuatmadlarat terhadap-Nya. Seandainya seluruh makhluk ini ta’at kepada Allah, makahal tersebut tidak akan menambah kekuasaan-Nya dan kemuliaan-Nya sedikitpun.Demikian pula bila seluruh makhluk berbuat maksiat kepada-Nya, maka hal itutidak akan mengurangi kekuasaan dan keagungan Allah sedikitpun. Allah menciptakan para Malaikat bukan untuk mendapatkan bantuan darimereka. Demikian pula Ia menciptakan ‘arsy bukan untuk menjadikan tempat bagidzat-Nya, tetapi untuk menampakkan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya. Tentanghal ini al-Imam ‘Ali ibn Abi Thalib berkata:

إنَّ اللهَ خَلَقَ العَرْشَإظْهَارًا لِقُدْرَتِهِ وَلَمْ يَتَّخِذْهُ مَكَانًا لِذَاتِهِ (رَوَاهُ أبُو مَنصُورالبَغدَاديّ فِي الفَرْقِ بَيْنَ الفِرَق)

“Sesungguhnya Allah menciptakan‘arsy untuk menunjukkan kekuasaan-Nya dan bukan untuk menjadikannya tempat bagiDzat-Nya”. (Diriwayatkan oleh Abu Manshur al-Baghdadi dalam al-Farq Bainal-Firq) [1]. Ayat ketiga dari QS.al-Ikhlash memberikan penjelasan dalam penafian, peniadaan dan pengingkaranterhadap keyakinan yang menyebutkan bahwa Allah sebagai benda (Jism). Jugabantahan terhadap keyakinan bahwa Allah mempunyai bagian-bagian yang terpisah-pisahdari-Nya. Sekaligus, penjelasan dalam menafikan bahwa Allah sebagai bagian darisesuatu yang lain. Dalam ayat ke tiga ini secara jelas dinyatakan bahwa Allah bukan sebagai “asal” atau “bahan” (Walid)bagi sesuatu, dan juga bukan “cabang” (Walad) dari sesuatu yanglain. Ayat ini berisi bantahan terhadap doktrin trinitas yang diyakiniorang-orang Nasrani. Doktrin yang menyatakan ada tiga unsur ketuhanan yangkesemuanya kembali pada unsur yang tunggal. Ayat ini juga merupakan bantahanterhadap keyakinan atau doktrin orang-orang Majusi yang menyatakan bahwa tuhanada dua, yaitu tuhan kebaikan dan tuhan keburukan. Faham serupa yang tak kalah sesatnya adalah faham yang dianut olehsegolongan orang yang terlena dalam kebodohannya (al-maghrurun). Mereka menganggapbahwa diri mereka adalah kaum Sufi yang telah mencapai derajat “tinggi”.Padahal  keyakinan mereka bertentangandengan ajaran kaum Sufi sejati sendiri. Mereka berkeyakinan bahwa keseluruhanalam ini adalah sebagai Dzat Allah. Dan setiap komponen-komponen yangada di dalam alam ini adalah bagian-bagian dari Dzat Allah. Keyakinan merekaini dikenal dengan nama akidah Wahdah al-Wujud. Mereka menganggap bahwamanusia, hewan, Malaikat, tumbuh-tumbuhan, benda mati dan lain sebagainyaadalah bagian dari Dzat Allah. Faham semacam ini telah berkembang di sebagaian kalangan yang mengakusebagai pengikut tarekat dan pengamal “shalawat” yang menyimpang. Keyakinan Wahdahal-Wujud ini lebih sesat dari pada kekufuran orang-orang Nasrani danMajusi. Kaum Nasrani berkeyakinan ada tiga tuhan, kaum Majusi berkeyakinanadanya dua tuhan, sementara mereka yang meyakini Wahdah al-Wujud meyakinibahwa segala sesuatu di alam ini adalah bagian-bagian dari dzat Tuhan. Kekufuransemacam ini jelas lebih buruk dari pada kekufuran kaum Nasrani dan kaum Majusi. Ada pula faham sesat lainnya, yang jugamerupakan kekufuran. Ialah keyakinan yang menyatakan bahwa Allah menyatu dengan sebagian mahluk-Nya. Kaumyang berkeyakinan ini mengatakan: “Apabila seorang hamba telah mencapai derajatibadah tertentu, maka Allah akanmenempati dan menyatu dengan tubuh orang tersebut”. Karenanya, di antara merekaada yang menyembah sebagian lainnya yang mereka anggap telah sampai padabatasan tersebut dalam ibadahnya tersebut. Keyakinan sesat ini dikenal dengan namaakidah Hulul. Dua keyakinan di atas, yaitu akidah Wahdahal-Wujud dan Hulul telah meracuni sebagian orang awam yang hanyamengutamakan dzikir tanpa mempelajari akidah yang benar dan cara beragamamereka. Dari sini mereka menganggap bahwa perbuatan mereka adalah jaminan keselamatandi akhirat kelak. Mereka juga menganggap bahwa mereka telah berbuat kebaikan “banyak”dan “besar” tiada tara. Padahal pada hakikatnya mereka tenggelam dalamkekufuran karena keyakinan sesat tersebut. Asy-Syekh ‘Abd al-Ghani an-Nabulsi berkata:

إنَّ اللهَ لاَ يَحُلُّفِي شَيءٍ وَلاَ يَنْحَلُّ مِنْهُ شَيءٌ وَلاَ يَحُلُّ فِيْهِ شَيءٌ لَيْسَ كَمِثلِهِ شَيءٌ

“Sesungguhnya Allah tidakbertempat atau menyatu pada sesuatu apapun, dan tidak berpisah dari-Nya sesuatuapapun, serta tidak menyatu dengan-Nya sesuatu apapun. Dia tidak menyerupaisegala sesuatu apapun dari makhluk-Nya” [2]. Al-Imam Muhyiddin Ibn al-‘Arabi berkata:

مَنْ قَالَ بِالحُلُولِ فَدِيْنُهُ مَعْلُولٌ وَمَا قَالَ بالاتّحَادِ إلاَّ أهْلُ الالْحَاد (ذكَرهُ أبُوالهُدَى الصَّيَّادي فِي رسَالتِهِ

“Barangsiapa berkata (berkeyakinan) Hulul maka agamanya cacat. Dantidak menyatakan Ittihad (Wahdah al-Wujud) kecuali golongan yangmenyimpang (dari Islam)”. (Dituturkan oleh Abu al-Huda al-Shayyadi dalam Risalah-nya) Ayat keempat dari QS.al-Ikhlash merupakan penjelasan bahwa Allah tidak meyerupai segala makhluk-Nya.Ayat tersebut merupakan ayat Muhkamat; artinya merupakan ayat yang jelasmaknanya dan tidak mengandung faham takwil. Pemaknaan ayat ini sama denganpemaknaan ayat Muhkamat lainnya, yaitu dalam firman Allah:

لَيْسَ كَمِثلِهِ شَيءٌ(الشورى:11)

“Dia (Allah) tidak menyerupai sesuatupun dari makhlukNya, baik dari satusegi maupun semua segi dan, tidak ada sesuatu apapun yang menyerupai-Nya”. (QS.as-Syura: 11). Dalam menafsirkan QS. al-Ikhlash: 4ini, para ulama Ahlussunnah menyatakan bahwa alam (yaitu segala sesuatu selainAllah) terbagi kepada dua bagian. Yaitu; benda dan sifat benda. Yang pertama;Benda, terbagi kepada dua bagian, yaitu: 1.      Hajm Lathif: Yaitu benda yang tidak dapatdipegang atau disentuh oleh tangan. Seperti cahaya, kegelapan, ruh, dan lain sebagainya. 2.      Hajm Katsif: Yaitu benda yang dapat dipegang ataudisentuh oleh tangan. Seperti manusia, dan benda-benda padat lainnya. Adapun yang kedua, yaitu sifat benda, artinya sifat-sifat dari HajmLathif dan sifat-sifat dari Hajm Katsif. Contohnya bergerak, diam,berubah, bersemayam, duduk, beridiri, terlentang, berada di tempat dan arah(baik atas, bawah, kanan, kiri, depan maupun belakang), turun, naik, panas,dingin, memiliki warna, bentuk, dan sebagainya. Ayat QS. al-Ikhlash: 4 ini menjelaskan kepada kita bahwa Allah tidak menyerupai makhluk-Nya. Bahwa Allahbukan sebagai Hajm Lathif, juga bukan sebagai Hajm Katsif, danbahwa Allah tidak disifati dengan sifat-sifat benda tersebut. Dari ayat inipara ulama Ahlussunnah Wal Jama’ah mengambil dalil bahwa Allah ada tanpa tempatdan tanpa arah. Karena bila Allah mempunyai tempat dan arah maka berarti Allahmempunyai banyak keserupaan dengan makhluk-Nya, dan mempunyai dimensi, yaitu panjang,lebar, dan kedalaman. Padahal sesuatu yang memiliki dimensi semacam inipastilah merupakan makhluk, bukan sebagai Tuhan. Mustahil Allah membutuhkankepada yang menjadikan-Nya dalam dimensi tersebut. Karena bila Allah“membutuhkan” maka berarti Allah lemah, dan tidak layak dituhankan. Di antara Imam terkemuka di kalangan Ahlussunnah, al-Imam Ahmad ibnHanbal, dan al-Imam Dzu al-Nun al-Mishri yang seorang sufi kenamaan,juga salah seorang murid terkemuka al-Imam Malik ibn Anas, berkata:

مَهْمَا تَصَوَّرْتَبِبَالِكَ فَاللهُ بِخِلاَفِ ذلِكَ (رَوَاهُ عن الامَام أحْمَد أبُو الفَضْل التَّمِيْميّفِي اعتقاد الامام المُبَجَّل أحمَد بن حَنْبَل وَرَواهُ عنْ ذَي النُّون المِصْريّالخَطيبُ البَغْدَاديّ في تَاريْخ بَغْدَاد)

“Apapun yang terlintas dalam benakmu tentang Allah, maka Allah tidak seperti demikian itu”. (Dikutip darial-Imam Ahmad ibn Hanbal oleh Abu al-Fadl al-Tamimi dalam kitab I’tiqadal-Imam al-Mubajjal Ahmad ibn Hanbal. Dan diriwayatkan dari al-Imam Dzual-Nun al-Mishri oleh al-Hafizh al-Khatib al-Baghdadi dalam kitab TarikhBaghdad) Semoga kita termasuk Ahl al-Ma’rifahdan mengimani Allah dengan seteguh-teguhnya keimanan seperti yang telahdigariskan Rasulullah dan para sahabatnya. Amin. [1] al-Farq Bain al-Firaq, h. 333 [2] al-Fath ar-Rabbani, h. 128   Kholilurrohman, al-Asy’ari asy-Syafi’i ar-Rifa’i al-Qadiri
SebelumnyaBagian 11 | Hadits Budak Perempuan Hitam (Hadîts al-Jâriyah as-Sawdâ’) Dan Penjelasan Allah Ada Tanpa Tempat SesudahnyaHADITS JIBRIL; DASAR-DASAR IMAN YANG ENAM (Iman Dengan Para Malaikat)

Tausiyah Lainnya