SEKILAS INFO
  • 5 bulan yang lalu / JADWAL KAJIAN AQIDAH TAUHID ASWAJA DR. KH. KHOLILURROHMAN, MA MASJID LATHIIFUSSALAAM – RS. BHAKTI ASIH KOTA TANGERANG SETIAP JUM’AT DAN MINGGU SETELAH SHALAT MAGHRIB PEMBAHASAN KITAB SYARH JAUHARATUTTAUHID
  • 5 bulan yang lalu / JADWAL KAJIAN MAJELIS SUBUH NURUL HIKMAH SETIAP HARI SETELAH SHALAT SUBUH KITAB YANG DI KAJI SAAT INI RIYADHU ASH-SHALIHIN
  • 5 bulan yang lalu / JADWAL KAJIAN TAUHID ASWAJA DR. KH. KHOLILURROHMAN, MA DI MASJID AL-MADINAH CBD CILEDUG KOTA TANGERANG SETIAP SABTU SETELAH SHALAT MAGHRIB KITAB SYARH MATAN AQIDATUL AWAM
JAM :

HADITS JIBRIL; DASAR-DASAR IMAN YANG ENAM (Iman Dengan Kitab-kitab Allah)

Terbit 18 Juni 2021 | Oleh : Pondok Pesantren Nurul Hikmah | Kategori : Catatan Aqidah
HADITS JIBRIL; DASAR-DASAR IMAN YANG ENAM (Iman Dengan Kitab-kitab Allah)
IMAN DENGAN KITAB-KITAB ALLAH Di antara Ushul al-Iman al-Sittah, setelahiman kepada Allah dan iman kepada Malaikat adalah iman kepada kitab-kitab-Nya.Iman kepada kitab-kitab Allah artinya mempercayai dan membenarkan bahwa Allahtelah menurunkan beberapa Kitab sebagai wahyu kepada beberapa orang Nabi-Nya. Didalam hal ini, tidak ada keterlibatan, baik dari Nabi yang bersangkutan maupun daripara Malaikat, dalam penyusunan kalimat-kalimat maupun makna-makna bagikitab-kitab tersebut. Jumlah kitab-kitab Samawi yang diturunkankepada para Nabi Allah adalah sebanyak 104 kitab. Sebanyak 50 kitab diantaranya diturunkan kepada Nabi Syits. Beliau adalah putra Nabi Adam yangdiangkat oleh Allah sebagai Nabi dan Rasul setelah Nabi Adam wafat. Sebanyak 30kitab diturunkan kepada Nabi Idris, 10 kitab kepada Nabi Ibrahim, 10 kitab kepadaNabi Musa sebelum diturunkan kitab at-Taurat, kemudian kitab at-Taurat kepadabeliau, kitab az-Zabur kepada Nabi Dawud, kitab al-Injil kepada Nabi ‘Isa dan kitabal-Qur’an di turunkan kepada Nabi akhir zaman, Nabi Muhammad. Adapun para Rasul yang tidak diturunkan kitab-kitabkepada mereka, Allah menurunkan bagi mereka ash-Shuhuf (lembaran-lembaran).Wahb ibn Munabbih, salah seorang ulama kaum Yahudi yang masuk Islam setelahRasulullah wafat, berkata: “Aku telah membaca tujuh puluh kitab darikitab-kitab yang telah diturunkan oleh Allah”. Seluruh para Nabi dan para Rasul Allah menyerukan ajarantauhid. Menyerukan bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah.  Dan agama seluruh para Nabi tersebut hanyasatu, yaitu agama Islam. Semua Nabi tersebut menyeru hanya kepada agama yangsatu ini. Tentang hal ini Rasulullah bersabda:

الأنْبِيَاءُ إخْوَةٌلِعَلاَّتٍ دِيْنُهُمْ وَاحِدٌ وَأمَّهَاتُهُمْ شَتَّى (رَوَاهُ الشَّيْخَانِ وَأحْمَدُوَابْنُ حِبَّانَ وَغَيْرُهُمْ)

“Para Nabi (ibarat) saudara seayah, -artinya- agamamereka satu, dan ibu-ibu mereka (artinya syari’at-syari’at mereka) berbeda-beda”.(HR. al-Bukhari, Muslim, Ahmad ibn Hanbal, Ibn Hibban dan lainnya). Al-Qur’an adalah kitab terakhir yangdi turunkan. Ia adalah kitab yang membawahi kitab-kitab sebelumnya, sebagaimanadisebutkan dalam firman Allah QS. al-Ma’idah: 48. Artinya bahwa al-Qur’anmenetapkan kebenaran isi kitab-kitab sebelumnya, sekaigus menjelaskanpenyelewengan isi dan perubahan lafazh yang dilakukan oleh sebagian orangterhadap kitab-kitab terdahulu tersebut. Al-Qur’an, tidak seperti kitab-kitab sebelumnya yangtelah banyak mengalami penyelewengan-penyelewengan pada isi (makna) dan perubahan-perubahanpada lafazh (at-Tahrif Wa at-tabdil). Kemurnian dan kebenaran al-Qur’anselalu terjaga. Hal ini sebagaimana dijanjikan Allah dalam firman-Nya:

إنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذّكْرَ وَإنَّا لَهُ لَحَافِظُوْنَ (الحجر:9)

“Sesungguhnya Kami (Allah) yang menurunkan al-Qur’andan sesungguhnya Kami (pula) yang menjaganya”. (QS. al-Hijr: 9) Adapun kitab at-Taurat dan al-Injilyang sekarang beredar, keduanya telah banyak mengalami penyelewengan makna-maknadan perubahan lafazh-lafazhnya. Orang-orang Yahudi pada awal mulanya hanyamerubah dan menyelewengkan makna kitab at-Taurat, tapi pada akhirnya merekajuga merubah dan menyelewengkan lafazh-lafazhnya. Allah  berfirman:

فَوَيْلٌ لِلًّذِيْنَ يَكْتُبُوْنَ الكِتَابَ بِأيْدِيْهِمْ ثُمَّ يَقُوْلُوْنَ هَذِهِ مِنْ عِنْدِ اللهِ لِيَشْتَرُوْا بِهِ ثَمَنًا قَلِيْلاً  فَوَيْلٌ لَهُمْ مِمَّا كَتَبَتْ أيْدِيْهِمْ وَوَيْلٌ لَهُمْ مِمَّا يَكْسِبُوْنَ (البَقَرَةُ:79)

“Maka celaka besar bagi orang-orang yang menulis at-Tauratdengan tangan mereka sendiri lalu mereka menyatakan: “Ini dari Allah”, (denganmaksud) untuk memperoleh keuntungan yang sedikit dengan perbuatan itu. Makacelaka besar bagi mereka akibat dari apa yang ditulis oleh tangan merekasendiri dan celaka besar bagi mereka akibat dari apa yang mereka kerjakan”.(QS. al-Baqarah: 79) Seperti halnya kitab at-Taurat, isikitab al-Injil-pun telah diselewengkan oleh kaum Nashrani. Hal ini telah dibuktikan dengan banyaknya versi kitab Injil yang beredar. Versi yang satu tidaksama dengan versi lainnya. Bahkan saringkali ditemukan antara satu versi atausatu cetakan bertentangan dalam banyak hal dengan versi atau cetakan lainnya. Kitab-kitabal-Injil yang beragam versi ini antara lain, Injil Matius, Injil Markus, InjilLukas, Injil Yohana dan Injil Barnabas. Perlu diketahui bahwa para pengikutNabi Musa dan Nabi ‘Isa adalah orang-orang Islam, sebagaimana juga parapengikut Nabi-nabi lainnya. Adapun kaum Yahudi dinamakan dengan “Yahudi” adalahkarena setelah beberapa orang pengikut Nabi Musa menyembah anak sapi yangdibuat dari emas oleh seorang bernama Musa as-Samiri, maka Nabi Musa sangatmarah kepada mereka karena telah menyembah selain Allah. Kemudian Nabi Musa memilihtujuh puluh orang dari pengikutnya tersebut untuk melakukan tadharr’u (berserahdiri) kepada Allah. Lalu Nabi Musa dengan kepasrahannya yang total kepada Allahberkata:

إنَّا هُدْنَا إلَيْكَ(الأعْرَافُ:156)

“… sesungguhnya kami kembali (bertaubat) kepadaEngkau”. (QS. al-A’raf: 156) Dengandemikian asal nama “Yahudi” diambil dari perkataan Nabi Musa: “Hudna”, yang artinya kami kembali, artinya kami bertaubat. Sementara kaum Nashrani dinamakan dengan“Nashrani” adalah karena orang-orang muslim dari pengikut Nabi ‘Isa dahulumerupakan orang-orang yang membela Nabi ‘Isa dalam menegakan agama Islam yangdibawa olehnya (Anshar ‘Isa). Tentang hal ini Allah berfirman:

فلَمَّا أحَسَّ عِيْسَى مِنْهُمُ الكُفْرَ قَالَ مَنْ أنْصَارِيْ إلىَ اللهِ قالَ الحَوَارِيُّوْنَ نَحْنُ أنْصَارُ اللهِ ءَامَنَّا بِاللهِ وَاشْهَدْ بِأنَّا مُسْلِمُوْنَ (ءَالِ عِمْرَانَ: 52)

“Maka tatkala Isa mengetahui keingkaran Bani Israil,ia berkata: Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku untuk (menegakkanagama) Allah? Para sahabat setianya (al-Hawariyyun) menjawab: Kami adalahpenolong-penolong (agama) Allah. Kami beriman kepada Allah dan saksikanlahbahwa kami adalah orang-orang Islam”. (QS. Ali ‘Imran: 52). Dari sini dapat ditarik kesimpulan bahwa parapengikut Nabi Musa dahulu yang mendapat sebutan nama Yahudi dan pengikut Nabi‘Isa dahulu yang mendapat sebutan nama Nashrani, bahwa pada awal mulanya merekaadalah orang-orang Islam. Yaitu ketika mereka masih setia mengikuti ajaran-ajaranIslam yang dibawa Nabi Musa dan Nabi ‘Isa sendiri. Hanya saja beberapa ratustahun kemudian setelah Nabi Musa wafat, dan setelah nama Yahudi melekat pada dirimereka, banyak dari mereka yang kemudian menyeleweng dari ajaran-ajaran NabiMusa sendiri. Demikian pula yang terjadi dengan pengikut Nabi ‘Isa.Setelah lewat sekitar 300 tahun dari diangkatnya beliau oleh Allah ke langit,banyak dari para pengikut Nabi ‘Isa tersebut yang dengan menyandang nama Nashranitelah menyeleweng dari ajaran Nabi ‘Isa sendiri. Dan persisnya, setelah sekitar500 tahun kemudian orang-orang yang mengaku sebagai pengikut Nabi ‘Isa ini semuanyatelah menyeleweng dari ajaran yang dibawa Nabi ‘Isa. Tidak ada seorangpun diantara mereka yang mengikuti ajaran Nabi ‘Isa dengan benar. Karenanya, setelahlewat 500 tahun tersebut tidak ada seorangpun dari mereka yang muslim. Maka sebelum kemudian Nabi Muhammad diutus oleh Allahsebagai Rasul, secara praktis saat itu tidak ada lagi seorang muslim di atas mukabumi ini. Dengan demikian pengikut murni Nabi Musa yang mendapat sebutan Yahudidan pengikut murni Nabi ‘Isa yang mendapat sebutan Nashrani sebenarnya mereka adalahorang-orang Islam. Hanya saja ketika sebagian dari mereka ataugenerasi-generasi setelah mereka menjadi orang-orang kafir kepada Allah, sebutantersebut masih melekat pada mereka hingga mereka lebih dikenal dengan namaYahudi dan Nashrani. Karena itu, Ahl al-Kitab, yaitu orang-orang Yahudidan orang-orang Nashrani yang mengaku sebagai pengikut ajaran kitab at-Tauratdan kitab al-Injil namun mereka menyeleweng dari keduanya, mereka semua adalahorang-orang yang kafir kepada Allah. Tentang hal ini Allah berfirman:

يَا أهْلَ الكِتَابِ لِمَ تَكْفُرُوْنَ بِآيَاتِ اللهِ وَأنْتُمْ تَشْهَدُوْنَ (ءَالِ عِمْرَانَ:70)

“Wahai Ahl al-Kitab (Yahudi dan Nashrani),mengapa kalian kufur (mengingkari) ayat-ayat Allah, padahal kalian mengetahui(kebenarannya)”. (QS. Ali ‘Imran: 70) Dalam beberapa kitab tentang sejarah hidup Rasulullah(Sirah Nabawiyyah) diterangkan bahwa Rasulullah menyeru Ahl al-Kitabuntuk masuk ke dalam Islam. Ini artinya bahwa mereka adalah orang-orang kafir,karena Rasulullah tidak akan mengajak orang-orang Islam untuk masuk ke dalam Islamkembali. Rasulullah  bersabda:

مَا مِنْ يَهُوْدِيٍّ وَلاَ نَصْرَانِيٍّ يَسْمَعُ بِيْ ثُمَّ لاَ يُؤْمِنُ بِيْ وَبِمَا جِئْتُ بِهِ إلاَّ كَانَ مِنْ أصْحَابِ النَّارِ (رَوَاهُ مُسْلِمٌ)

“Tidaklah seorang Yahudi dan Nashrani yang telahmendengar tentang Aku kemudian tidak beriman kepadaku dan kepada (ajaran) yangaku bawa, kecuali ia akan tergolong penduduk neraka”. (HR. Muslim) Al-Qur’an Kalam Allah Ketika kita katakan: “al-Qur’an Kalam Allah”, makadalam pemaknaannya terdapat dua pengertian: Pertama: al-Qur’an dalam pengertianlafazh-lafazh yang diturunkan (al-Lafzh al-Munazzal), yang ditulis dengantinta di antara lebaran-lembaran kertas (al-Maktub Bain al-Masha-hif),yang dibaca dengan lisan (al-Maqru’ Bi al-Lisan), dan dihapalkan didalam hati (al-Mahfuzh Fi ash-Shudur). al-Qur’an dalam pengertian inimaka tentunya ia berupa bahasa Arab, tersusun dari huruf-huruf, serta berupasuara saat dibaca. Kedua: al-Qur’an dalam pengertian KalamAllah  ad-Dzati.  Artinya dalam pengertian salah satu sifatAllah yang wajib kita yakini, yaitu sifat al-Kalam. Sifat Kalam Allah ini,sebagaimana seluruh sifat-sifat Allah lainnya, tidak menyerupai makhluk-Nya. SifatKalam Allah tanpa permulaan dan tanpa penghabisan, serta tidak menyerupai sifatkalam yang ada pada makhluk. Sifat kalam pada makhluk berupa huruf-huruf, suaradan bahasa. Adapun Kalam Allah  bukanhuruf, bukan suara dan bukan bahasa. Al-Qur’andalam pengertian pertama (al-Lafzh al-Munazzal) maka ia adalah makhluk.Dan al-Qur’an dalam pengertian yang kedua (al-Kalam adz-Dzati) maka jelasia bukan makhluk. Namun demikian, al-Qur’an baik dalam pengertian pertamamaupun dalam pengertian kedua tetap disebut “Kalam Allah”. Kita tidak bolehmengucapkan secara mutlak; “al-Qur’an Makhluk”. Sebab pengertian al-Qur’an adadua; dalam pengertian al-Lafzh al-Munazzal dan dalam pengertian al-Kalamadz-Dzati, sebagaimana di atas. Al-Qur’an dalam pengertian pertama adalah sebagai ungkapandari sifat Kalam Allah adz-Dzati. Maka al-Qur’an yang berupa kitab yangkita baca dan kita hafalkan, tersusun dari huruf-huruf, dan dalam bentuk bahasaArab, bukan sebagai Kalam Allah al-Dzati (sifat Kalam Allah), melainkan kitabtersebut adalah ungkapan (‘Ibarah)  dari Kalam Allah al-Dzati yang bukansuara, bukan huruf-huruf, dan bukan bahasa. Sebagai pendekatan, apabila kita menulis lafazh“Allah” di papan tulis, maka hal itu bukan berarti bahwa “Allah” yang berupatulisan itu Tuhan yang kita sembah. Melainkan lafazh atau tulisan “Allah”tersebut hanya sebagai ungkapan (‘Ibarah) bagi adanya Tuhan yang wajibkita sembah, yang bernama “Allah”. Demikian pula dengan “al-Qur’an”, ia disebut“Kalam Allah” bukan dalam pengertian bahwa itulah sifat Kalam Allah; berupahuruf-huruf, dan dalam bahasa Arab. Tetapi al-Qur’an yang dalam bentukhuruf-huruf dan dalam bentuk bahasa Arab tersebut adalah sebagai ungkapan darisifat Kalam Allah adz-Dzati. Dengan demikian harus dibedakan antara al-Lafzhal-Munazzal dan al-Kalam adz-Dzati. Sebab apa bila tidak dibedakanantara dua perkara ini, maka setiap orang yang mendengar bacaan al-Qur’an akanmendapatkan gelar “Kalimullah” sebagaimana Nabi Musa yang telah mendapatgelar “Kalimullah”. Tentu hal ini menjadi rancu dan tidak dapatditerima. Padahal, Nabi Musa mendapat gelar “Kalimullah” adalah karenabeliau pernah mendengar al-Kalam adz-Dzati yang bukan berupa huruf,bukan suara dan bukan bahasa. Dan seandainya setiap orang yang mendengar bacaanal-Qur’an mendapat gelar “Kalimullah” seperti gelar Nabi Musa, makaberarti tidak ada keistimewaan sama sekali bagi Nabi Musa yang telahmendapatkan gelar “Kalimullah” tersebut. Dalam al-Qur’an Allah berfirman:

وَإِنْ أَحَدٌ مِنَ الْمُشْرِكِينَ اسْتَجَارَكَ فَأَجِرْهُ حَتَّى يَسْمَعَ كَلَامَ اللَّه (التوبة: 6)

“Dan apa bila seseorang dari orang-orang musyrik memintaperlidungan darimu (wahai Muhammad) maka lindungilah ia hingga ia mendengarKalam Allah”. (QS. at-Taubah: 6) Dalamayat ini Allah memerintahkan Nabi Muhammad untuk memberikan perlidungan kepadaseorang musyrik kafir yang diburu oleh kaumnya, jika memang orang musyrik inimeminta perlindungan darinya. Artinya, Orang musyrik ini diberi keamanan untukhidup di kalangan orang-orang Islam hingga ia mendengar Kalam Allah. Setelahorang musyrik ini diberi keamanan dan mendengar Kalam Allah, namun ternyata iatidak masuk Islam, maka ia dikembalikan ke wilayah tempat tinggalnya. Kemudian, yang dimaksud bahwa orang musyrik tersebut“mendengar Kalam Allah” adalah mendengar bacaan kitab al-Qur’an yang berupalafazh-lafazh dalam bentuk bahasa Arab (al-Lafzh al-Munazzal), bukandalam pengertian mendengar al-Kalam adz-Dzati. Sebab jika yang dimaksudmendengar al-Kalam adz-Dzati maka berarti sama saja antara orang musyriktersebut dengan Nabi Musa yang telah mendapatkan gelar “Kalimullah”. Danbila demikian maka berarti orang musyrik tersebut juga mendaptkan gelar “Kalimullah”,persis seperti Nabi Musa. Tentunya hal ini tidak bisa dibenarkan. Diantara dalil lainnya yang menguatkan bahwa al-Kalamadz-Dzati bukan berupa huruf-huruf, bukan suara, dan bukan bahasa adalahfirman Allah:

وَهُوَ أسْرَعُ الحَاسِبِيْنَ(الأنْعَامُ:62)

“… dan Dia Allah yang menghisab paling cepat”. (QS.al-An’am: 62) Padahari kiamat kelak, Allah akan menghisab seluruh hamba-Nya dari bangsa manusiadan jin. Allah akan memperdengarkan kalam-Nya kepada setiap orang dari mereka.Dan mereka akan memahami dari kalam Allah tersebut pertanyaan-pertanyaantentang segala apa yang telah mereka kerjakan, segala apa yang mereka katakan,dan apa yang mereka yakini ketika mereka hidup di dunia. Rasulullah  bersabda:

مَا مِنْكُمْ مِنُ أحَدٍ إلاَّ سَيُكَلِّمُهُ رَبُّهُ يَوْمَ القِيَامَةِ لَيْسَ بَيْنَهُ وَبَيْنَهُ تُرْجُمَانُ(رَوَاهُ البُخَارِيُّ)

“Setiap orang akan Allah perdengarkan Kalam-Nyakepadanya (menghisabnya) pada hari kiamat, tidak ada penterjemah antara diadengan Allah”. (HR. al-Bukhari) Allah akan menghisab seluruhhamba-Nya dalam waktu yang sangat singkat. Seandainya Allah menghisab merekadengan suara, susunan huruf, dan dengan bahasa, maka Allah akan membutuhkanwaktu beratus-ratus ribu tahun untuk menyelesaikan hisab tersebut, karenamakhluk Allah sangat banyak. Kaum Ya’juj dan Ma’juj saja jumlah mereka 100 kalilipat dari jumlah seluruh manusia, bahkan dalam satu riwayat disebutkan jumlahmereka 1000 kali lipat dari jumlah manusia. Belum lagi bangsa jin yang sebagianmereka hidup hingga ribuan tahun. Manusia sendiri, sebelum umat Nabi Muhammadada yang mencapai umurnya hingga 2000 tahun, ada yang berumur hingga 1000tahun, dan ada pula yang hanya 100 tahun. Kelak mereka semua akan dihisab,bukan hanya dalam urusan perkataan atau ucapan saja, tapi juga menyangkutsegala perbuatan dan keyakinan-keyakinan mereka. Seandainya Kalam Allah berupasuara, huruf, dan bahasa maka dalam menghisab semua makhluk tersebut Allah akanmembutuhkan kepada waktu yang sangat panjang. Karena dalam penggunaan huruf-hurufdan bahasa jelas membutuhkan kepada waktu. Huruf berganti huruf, kemudian katamenyusul kata, dan demekian seterusnya. Dan bila demikian maka maka berartiAllah bukan sebagai Asra’ al-Hasibin (Penghisab yang paling cepat), tapisebaliknya; Abtha’ al-Hasibin (Penghisab yang paling lambat). Tentunyahal ini mustahil bagi Allah. Dalamayat lain Allah berfirman:

إنَّمَا أمْرُهُ إذَا أرَادَ شَيْئًا أنْ يَقُوْلَ لَهُ كُنْ فَيَكُوْنُ (يس: 82)

Maknanyaayat ini bukan berarti bahwa setiap Allah berkehendak  menciptakan sesuatu, maka dia berkata: “Kun”,dengan huruf “Kaf” dan “Nun” yang artinya “Jadilah…!”. Karenaseandainya setiap berkehendak menciptakan sesuatu Allah harus berkata “Kun”,maka dalam setiap saat perbuatan-Nya tidak ada yang lain kecuali hanya berkata-kata:“kun, kun, kun…”. Hal ini tentu mustahil atas Allah. Karena sesungguhnyadalam waktu yang sesaat saja bagi kita, Allah maha Kuasa untuk menciptakan segalasesuatu yang tidak terhitung jumlanya. Deburan ombak di lautan, rontoknyadedaunan, tetesan air hujan, tumbuhnya tunas-tunas, kelahiran bayi manusia,kelahiran anak hewan dari induknya, letusan gunung, sakitnya manusia dankematiannya, serta berbagai peristiwa lainnya, semua itu adalah hal-hal yang telahdikehendaki Allah dan merupakan ciptaan-Nya. Semua perkara tersebut bagi kitaterjadi dalam hitungan yang sangat singkat, bisa terjadi secara beruntun bahkanbersamaan. Adapun sifat perbuatan Allah sendiri (Shifat al-Fi’il)tidak terikat oleh waktu. Allah menciptakan segala sesuatu, sifatperbuatan-Nya atau sifat menciptakan-Nya tersebut tidak boleh dikatakan “dimasa lampau”, “di masa sekarang”, atau “di masa mendatang”. Sebab perbuatanAllah itu azali, tidak seperti perbuatan makhluk yang baharu. PerbuatanAllah tidak terikat oleh waktu, dan tidak dengan mempergunakan alat-alat.Benar, segala kejadian yang terjadi pada alam ini semuanya baharu, semuanyadiciptakan oleh Allah, namun sifat perbuatan Allah atau sifat menciptakan Allah(Shifat al-Fi’il) tidak boleh dikatakan baharu. Kemudian dari pada itu, kata “Kun” adalahbahasa Arab yang merupakan ciptaan Allah (al-Makhluk). Sedangkan Allahadalah Pencipta (Khaliq) bagi segala bahasa. Maka bagaimana mungkinAllah sebagai al-Khaliq membutuhkan kepada ciptaan-Nya sendiri (al-Makhluq)?!Seandainya Kalam Allah merupakan bahasa, tersusun dari huruf-huruf, dan merupakansuara, maka berarti sebelum Allah menciptakan bahasa Dia diam; tidak memilikisifat Kalam, dan Allah baru memiliki sifat Kalam setelah Dia menciptakanbahasa-bahasa tersebut. Bila seperti ini maka berarti Allah baharu, persisseperti makhluk-Nya, karena Dia berubah dari satu keadaan kepada keadaan yanglain. Tentu hal seperti ini mustahil atas Allah. Dengan demikian makna yangbenar dariayat dalam QS. Yasin: 82 diatas adalah sebagai ungkapan bahwa Allah maha Kuasauntuk menciptakan segala sesuatu tanpa lelah, tanpa kesulitan, dan tanpa ada siapapunyang dapat menghalangi-Nya. Dengan kata lain, bahwa bagi Allah sangat mudah untukmenciptakan segala sesuatu yang Ia kehendaki, sesuatu tersebut dengan cepat akanterjadi, tanpa ada penundaan sedikitpun dari waktu yang Ia kehendakinya. Kholilurrohman, al-Asy’ari asy-Syafi’i ar-Rifa’i al-Qadiri
SebelumnyaHADITS JIBRIL; DASAR-DASAR IMAN YANG ENAM (Iman Dengan Para Malaikat) SesudahnyaHADITS JIBRIL; DASAR-DASAR IMAN YANG ENAM (Iman Dengan Para Rasul)

Tausiyah Lainnya