SEKILAS INFO
  • 5 bulan yang lalu / JADWAL KAJIAN AQIDAH TAUHID ASWAJA DR. KH. KHOLILURROHMAN, MA MASJID LATHIIFUSSALAAM – RS. BHAKTI ASIH KOTA TANGERANG SETIAP JUM’AT DAN MINGGU SETELAH SHALAT MAGHRIB PEMBAHASAN KITAB SYARH JAUHARATUTTAUHID
  • 5 bulan yang lalu / JADWAL KAJIAN MAJELIS SUBUH NURUL HIKMAH SETIAP HARI SETELAH SHALAT SUBUH KITAB YANG DI KAJI SAAT INI RIYADHU ASH-SHALIHIN
  • 5 bulan yang lalu / JADWAL KAJIAN TAUHID ASWAJA DR. KH. KHOLILURROHMAN, MA DI MASJID AL-MADINAH CBD CILEDUG KOTA TANGERANG SETIAP SABTU SETELAH SHALAT MAGHRIB KITAB SYARH MATAN AQIDATUL AWAM
JAM :

HADITS JIBRIL; DASAR-DASAR IMAN YANG ENAM (Iman Dengan Para Malaikat)

Terbit 18 Juni 2021 | Oleh : Pondok Pesantren Nurul Hikmah | Kategori : Catatan Aqidah
HADITS JIBRIL; DASAR-DASAR IMAN YANG ENAM (Iman Dengan Para Malaikat)
IMAN KEPADA MALAIKAT Dalam al-Qur’an tentangkeberadaan para Malaikat, Allah berfirman:

وَإنَّ عَلَيْكُمْ لَحَافِظِيْنَ كِرَامًا كَاتِبِيْنَ يَعْلَمُونَ مَا تَفْعَلُونَ (الانفطار: 10-12)

“Sesungguhnya atas kalian ada (Malaikat-Malaikat)yang mengawasi (segala perbuatan), yang mulia dan selalu mencatat(perbuatan-perbuatan tersebut). Mereka mengetahui apa yang kalian kerjakan(baik perbuatan maupun perkataan yang baik dan buruk)”. (QS. al-Infithar:10-12) Diantara Ushul al-Iman as-Sittahadalah kewajiban beriman kepada para Malaikat Allah. Beriman kepada para Malaikatartinya meyakini bahwa mereka adalah hamba-hamba Allah yang mulia. ParaMalaikat tersebut bukan sebagai bintang atau planet-planet yang berada di arahlangit. Tetapi mereka adalah para makhluk Allah yang termasuk dari Hajm Lathif(tidak dapat dipegang oleh tangan). Mereka bukan dari jenis laki-laki ataupunperempuan, mereka tidak makan, tidak minum, tidak tidur, tidak nikah, serta tidakberketurunan. Mereka tidak pernah berbuat dosa kepada Allah sedikitpun. Merekaselalu menjalankan apa yang diperintahkan oleh Allah atas mereka. Allahberfirman:

لاَ يَعْصُونَ اللهَ مَا أمَرَهُم وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُوْنَ .(التّحريم: 6)

“Mereka tidak pernah bermaksiat (durhaka) kepadaAllah terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka, dan mereka selalumengerjakan apa yang diperintahkan”. (QS. at-Tahrim: 6) Allah menjadikan tabi’at para Malaikat tersebut hanya untuk selalu taatkepada-Nya. Namun begitu, mereka taat bukan karena terpaksa (Majbur), karenamereka memiliki ikhtiar. Akan tetapi ikhtiar mereka, -dengan kehendak Allah-,hanya dalam ketaatan-ketaatan kepada-Nya saja. Maka sama sekali tidak adaikhtiar pada diri mereka untuk melakukan perbuatan-perbuatan maksiat. Danmereka sama sekali tidak merasa bosan atau lelah dalam beribadah kepada Allah. Para Malaikat tersebut tidak bolehdisebut sebagai pembantu-pembantu Allah (A’wan Allah). Karena Allah MahaKaya atas seluruh alam ini. Allah yang menciptakan segala sesuatu maka Allahtidak membutuhkan kepada siapapun dari makhluk-makhluk-Nya ini. Allah berfirman:

فَإنَّ اللهَ غَنِيٌّ عَنِ العَالَمِيْنَ (ءال عمران :97)

“… maka sesungguhnya Allah Maha Kaya atas seluruhalam”. (QS. Ali ‘Imran: 97). Allah menciptakan para Malaikat bukan untukmendapatkan bantuan atau mengambil manfa’at dari mereka. Allah menciptakan paraMalaikat dengan tujuan berbagai hikmah, baik hikmah tersebut kita ketahui atautidak. Di antara hikmahnya adalah bahwa para Malaikat tersebut adalah sebagaibukti akan keluasan rahmat-rahmat Allah. Karena sebagian di antara paraMalaikat tersebut ada yang mengemban tugas dengan tujuan kemaslahatan danmempermudah bagi urusan-urusan manusia. Di samping itu, Allah  menciptakan para Malaikat tersebut adalah untukmemperlihatkan tanda-tanda kekuasaan-Nya. Allah menciptakan para Malaikat dari cahaya.Rasulullah  bersabda:

خُلِقَتِ المَلاَئِكَةُ مِنْ نُوْرٍ وَخُلِقَ الجَانُّ مِنْ مَارِجٍ مِنْ نَارٍ وَخُلقَ ءَادَمُ مِمَّا وُصفَلَكُم (رَوَاهُ مُسْلمٌ)

“Malaikat diciptakan dari cahaya, jin diciptakan dariapi -murni- tidak berasap, dan Adam diciptakan dari apa yang telah diterangkankepada kalian”. (HR Muslim) Allah menciptakan para Malaikat dalam bentuk danukuran yang sangat besar, serta memiliki sayap-sayap. Malaikat Jibril misalnya,dalam beberapa riwayat disebutkan bahwa beliau mempunyai 600 sayap. Satu sayapMalaikat Jibril ini dapat menutupi ufuk langit, dari sebelah timur hinggasebelah barat. Artinya, satu sayap Malaikat Jibril tersebut dapat menutupi alamdunia ini. Dijelaskan pula dalam sebuah hadits tentang gambaranbesarnya para Malaikat Hamalah al-‘Arsy, yaitu Malaikat-Malaikatpengangkat ‘arsy, bahwa jarak antara cuping telinga dan pundak mereka adalahjarak perjalanan 700 tahun dengan kecepatan terbang seekor burung yang sangatcepat. Pemimpin secara keseluruhan dari para Malaikat Allahadalah Malaikat Jibril. Beliau adalah Malaikat yang paling mulia. SelainJibril, pemimpin para Malaikat lainnya (Ru-asa’ al-Mala’ikah) adalahMika-il, ‘Azra-il dan Israfil. Dari uraian sifat-sifat Malaikat diatas dapat kita ketahui beberapa hal berikut: Pertama: Cerita yang tersebar mengenai Harut dan Marut, bahwakeduanya turun ke bumi, kemudian terpesona oleh kecantikan seorang wanitabernama al-Zuhrah, lalu keduanya menggoda wanita tersebut, hingga akhirnya  berbuat zina dengannya, atau cerita yangmenyebutkan bahwa Harut dan Marut terlebih dahulu minum khamr, kemudian berzinadengan wanita tersebut hingga melahirkan seorang anak yang kemudian dibunuh,adalah cerita bohong belaka. Karena sifat-sifat buruk semacam ini bukan sifat-sifatpara Malaikat Allah, yang notabene selalu menjalankan perintah-Nya dan tidakpernah durhaka kepada-Nya. Cerita keji ini bersumber dari orang-orang Yahudiyang memang sangat membenci para Malaikat. Cerita seperti ini jelas bertentangandengan al-Qur’an, serta menyalahi akal sehat. Karena itu, para ulama kitamengatakan bahwa cerita ini sama sekali tidak berdasar dan boleh diyakinikebenarannya. Pembahasan ini semua telah dijelaskan oleh para ulama tafsir,seperti al-Imam al-Mufassir al-Fakhrurrazi, al-Mufassiral-Baidlawi, al-Mufassir Abu as-Su’ud, al-Mufassir al-Khazin danlain-lain. Juga telah dijelaskan oleh para ulama hadits, seperti al-Hafizhas-Suyuthi dalam kitab al-Musnad dan kitab ad-Durr al-Mantsur, asy-syekhMuhammad Hut al-Bairuti dalam kitab Asna al-Mathalib, dan oleh paraulama terkemuka lainnya. Kedua: Bahwa Iblis bukan termasuk golongan Malaikat. Karenadzat dan sifat-sifat Iblis berbeda dengan sifat-sifat Malaikat. Bahkan sifat-sifatIblis ini bertolak belakang dengan sifat-sifat Malaikat. Hal ini berdasarkandalil-dalil sebagai berikut: 1. Iblis adalah termasuk golongan Jin. Allah berfirman:

إلاَّ إبْليْس كَانَ مِنَ الجِنِّ فَفَسَقَ عَنْ أمْرِ رَبِّهِ (الكهف: 50)

“…kecuali Iblis, dia adalah dari golongan jin, makaia mendurhakai perintah Tuhannya…” (QS al-Kahfi: 50) 2. Iblis adalah makhluk kafir,seperti pernyataan jelas dalam al-Qur’an:

إلاَّ إبْلِيسَ أبَى وَاسْتَكْبَرَ وَكَانَ مِنَ الكَافِرِيْنَ (البقرة :34)

“…kecuali Iblis, ia enggan dan takabur dan iatermasuk golongan yang kafir”. (QS al-Baqarah: 34) 3. Iblis memiliki keturunan, sebagaimana firman Allah:

أفَتَتَّخِذُونَهُ وَذُرِّيَتَهُ أوْلِيَاءُ مِنْ دُوْنِي (الكهف:50)

“…patutkah kamu menjadikannya dan keurunan-keturunannyasebagai pemimpin selain Aku…” (QS al-Kahfi: 50) 4. Iblis mengaku bahwa dirinyadiciptakan oleh Allah dari api, seperti dijelaskan dalam al-Qur’an:

قَالَ أنَا خَيْرٌ مِنْهُ خَلَقْتَنِي مِنْ نَارٍ وَخَلَقْتَهُ مِنْ طِيْنٍ (الاعراف: 12)

“Iblis berkata: Aku lebih baik darinya (Adam), Engkaumencipakanku dari api sedangkan dia Engkau ciptakan ia dari tanah”. (QS.al-A’raf: 12) Dengan demikian jelaslah bahwa Iblis bukan termasukgolongan Malaikat, karena ia kafir kepada Allah, ia berketurunan, dan ia diciptakandari api, sementara Malaikat diciptakan dari cahaya. Ketiga: Pernyataan yang mengatakan bahwa para Malaikat sebagaidari jenis perempuan adalah merupakan perkataan orang-orang kafir. Sebagaimana halini dinyatakan oleh Allah dalam al-Qur’an:

إنَّ الّذِيْنَ لاَيُؤْمِنُونَ بِالآخِرَةِ لَيُسَمُّونَ المَلاَئِكَةَ تَسْمِيَةَ الأنْثى (النجم:27)

“Sesungguhnya orang yangtidak beriman kepada kehidupan akhirat (artinya orang-orang kafir), merekabenar-benar menamakan Malaikat dengan nama perempuan”. (QS. an-Najm: 27) Dengandemikian Malaikat bukan dari jenis laki-laki dan bukan pula dari jenis perempuan. Tugas-Tugas Para Malaikat Jumlah para Malaikat sangat banyak. Tidak ada yangmengetahui jumlah mereka secara pasti kecuali Allah sendiri. Allah berfirman:

وَمَا يَعْلَمُ جُنُودَ رَبِّكَ إِلَّا هُوَ(المدثر: 31)

“Dan tidak ada yang mengetahui akan bala tentara (para Malaikat)Tuhanmu (Wahai Muhammad) kecuali Dia sendiri”. (QS al-Mudatsir: 31) Jumlahpara Malaikat lebih banyak dari seluruh jumlah manusia, jin, kerikil, dedaunandan bahkan lebih banyak dari setiap tetes air hujan. Mereka adalah para penduduklangit, dari mulai langit pertama hingga langit ke tujuh. Dalam sebuah hadits Rasulullahbersabda:

مَا فِي السَّمَوَاتِ مَوضِع أرْبَع أصَا بع إلاَّ وَفِيْهِ مَلَكٌ قَائِمٌ أَوْ رَاكِعٌ أوْ سَاجِدٌ. (رَوَاهُالتّرمِذيّ)

“Tidaklah ada tempat -kosong- dengan ukuran empatjari tangan di semua lapisan langit, kecuali pada tempat tersebut ada Malaikatyang sedang berdiri, ruku’ atau sujud (artinya semuanya dalam keadaan beribadahkepada Allah)”. (HR Tirmidzi). Hadits ini memberikan penjelasankepada kita bahwa setiap lapis langit dipenuhi oleh para Malaikat Allah. Dengandemikian mustahil jika Allah berada di dalam langit seperti yang diyakini olehkaum Musyabbihah, atau kaum Wahhabiyyah di masa sekarang. Karena bila demikianmaka berarti Allah berdesak-desakan dengan para Malaikat-Nya, dan berarti Allahmembutuhkan kepada langit yang notabene sebagai makhluk-Nya sendiri. Na’udzuBillah. Dari beberapa ayat al-Qur’an dan hadits Nabi di atas dapatdisimpulkan bahwa para Malaikat mempunyai tugas yang beragam. Malaikat Jibrilmisalnya, ditugaskan untuk menyampaikan wahyu Allah  kepada para Nabi dan Rasul-Nya serta menyampaikanperintah-perintah Allah kepada para Malaikat lainnya. Beliau juga ditugaskanmengatur angin, dan membantu para Nabi Allah. Malaikat Mika-il diperintahkanuntuk mengatur hujan dan memelihara tumbuh-tumbuhan. Malaikat ‘Azra-il bertugasmencabut nyawa. Malaikat Israfil bertugas meniup sangkakala (at-Tsur). MalaikatMalik sebagi penjaga (Khazin) Neraka. Ada sebagian Malaikat yangbertugas mancatat amal baik dan amal buruk manusia. Ada pula yang bertugasmenanyai manusia di kubur, yaitu Malaikat Munkar dan Nakir. Ada yang bertugasmenjaga manusia dari gangguan jin. Ada yang bertugas menyampaikan shalawat dan salamumat orang Islam kepada Nabi Muhammad. Ada yang bertugas menjaga surga,membantu orang mukmin dalam peperangan seperti yang terjadi dalam perang Badr,mengatur gunung-gunung, menghibur hati orang-orang mukmin yang berada dalamkesedihan dan kesusahan. Ada pula Malaikat pembawa adzab atau siksa, dan adapula yang membawa rahmat. Ketika Rasulullah Mi’raj, beliau menyaksikan al-Baital-Makmur di langit ke tujuh. Al-Bait al-Ma’mur ini adalah rumah yang dimuliakanbagi para penduduk langit (para Malaikat), seperti halnya Ka’bah sebagai rumahyang dimuliakan bagi para penduduk bumi (Manusia dan Jin). Setiap harinya, al-Baital-Ma’mur dimasuki oleh 70.000 Malaikat. Para Malaikat  tersebut melaksanakan shalat di dalamnya. Setelahitu kemudian mereka keluar dan tidak akan pernah kembali lagi ke dalamnyaselamanya. Artinya para Malaikat dengan jumlah tersebut dalam setiap harinyaterus-menerus bergantian. Kesimpulannya, bahwa Allah menciptakan para Malaikatbukan karena membutuhkan bantuan dari mereka. Dengan demikian tidak bolehdikatakan: “Jika Allah maha kuasa atas segala sesuatu mengapa Dia memerintahkanpara Malaikat untuk melaksanakan tugas-tugas tersebut?”. Karena Allah melakukanterhadap apa yang Ia kehendaki. Allah tidak dipertanyakan kepada-Nya “apa yangIa berbuat”?! atau “kenapa berbuat demikian”?! Sebaliknya, seluruh hamba yangakan ditanya dan diminta mempertanggungjawabkan perbuatannyamasing-masing. Benar, segala perbuatan Allah tidak lepas berbagai hikmah,baik hikmah yang kita ketahui ataupun tidak. Di antara hikmah pemberian tugas-tugasterhadap para Malaikat tersebut adalah untuk mengangkat derajat mereka. Karenadengan selalu berbuat ketaatan-ketaatan kepada-Nya maka setiap makhluk akansemakin tinggi kemuliaan dan derajatnya bagi Allah. Kemudian dari pada itu, sesungguhnya para Malaikat hanyamengatur dalam perkara-perkara tertentu saja. Seperti mengatur hujan, angin,tumbuh-tumbuhan atau lainnya. Artinya bahwa para Malaikat tidak mengatur segalasesuatu secara mutlak. Karena pengaturan terhadap segala sesuatu secara mutlakhanya milik Allah saja. Inilah di antara makna yang dimaksud oleh salah satunama Allah “al-Qayyum”. Artinya, hanya Allah yang mengatur secara mutlakakan segala urusan makhluk-makhluk-Nya. Karena itu, pengaturan para Malaikatterhadap perkara-perkara tertentu tersebut berada dibawah kemutlakan pengaturandan pengawasan Allah. Kemudian para Malaikat tersebut oleh Allah diberikemampuan untuk beralih rupa menjadi bentuk laki-laki yang tampan, tetapi tanpaalat kelamin. Namun mereka tidak akan menjelma menjadi perempuan, ataubentuk-bentuk yang buruk. Selain itu, Allah juga memberi mereka kekuatan yangsangat dahsyat. Tentang Malaikat Jibril, misalkan dinyatakan dalam al-Qur’an:

ذِيْ قُوَّةٍ عِنْدَ ذِي العَرْشِ مَكِيْن (التكوير:20)

“(Dia Jibril) yang mempunyai kekuatan, yang mempunyaiderajat yang agung menurut Allah”. (QS at-Takwir: 20) MalaikatJibril ini dengan hanya satu helai sayapnya pernah mengangkat empat atau limakota dengan seluruh penduduk yang ada di dalamnya, yaitu kota kaum Nabi Luth. Beliaumengangkat seluruh kota-kota tersebut beserta isinya sampai jauh tinggi hingga mendekatilangit pertama, kemudian beliau membalikannya, menjadikan arah bawahnya sebagaiarah atas. Semua ini beliau lakukan tanpa rasa lelah dan tanpa kesulitan. Sertamasih banyak contoh-contoh lainnya. Kaedah Penting Seseorang tidak dibenarkan mancaci maki para MalaikatAllah, baik Malaikat ‘Izra-il maupun Malaikat lainnya. Menghina, merendahkan,melecehkan para Malaikat dapat mengakibatkan kufur, keluar dari Islam (Riddah).Karena seluruh para Malaikat Allah adalah hamba-hamba yang senantiasa saleh danbertaqwa kepada-Nya. Mereka semua adalah para kekasih Allah (Auliya’ Allah,Ahbab Allah). Seorang muslim yang dicintai oleh Allah adalah yang mencintaipara Malaikat-Nya dengan setulus hati, tidak seperti orang-orang Yahudi yangmembenci dan memusuhi para Malaikat tersebut. Semoga Allah menggolongkan kita sebagaihamba-hambanya yang saleh bersama para Nabi-Nya, para Malaikat-Nya dan parawali-Nya. Amin   Kholilurrohman, al-Asy’ari asy-Syafi’i ar-Rifa’i al-Qadiri
SebelumnyaHADITS JIBRIL; DASAR-DASAR IMAN YANG ENAM (Iman Dengan Allah) SesudahnyaHADITS JIBRIL; DASAR-DASAR IMAN YANG ENAM (Iman Dengan Kitab-kitab Allah)

Tausiyah Lainnya