SEKILAS INFO
  • 5 bulan yang lalu / JADWAL KAJIAN AQIDAH TAUHID ASWAJA DR. KH. KHOLILURROHMAN, MA MASJID LATHIIFUSSALAAM – RS. BHAKTI ASIH KOTA TANGERANG SETIAP JUM’AT DAN MINGGU SETELAH SHALAT MAGHRIB PEMBAHASAN KITAB SYARH JAUHARATUTTAUHID
  • 5 bulan yang lalu / JADWAL KAJIAN MAJELIS SUBUH NURUL HIKMAH SETIAP HARI SETELAH SHALAT SUBUH KITAB YANG DI KAJI SAAT INI RIYADHU ASH-SHALIHIN
  • 5 bulan yang lalu / JADWAL KAJIAN TAUHID ASWAJA DR. KH. KHOLILURROHMAN, MA DI MASJID AL-MADINAH CBD CILEDUG KOTA TANGERANG SETIAP SABTU SETELAH SHALAT MAGHRIB KITAB SYARH MATAN AQIDATUL AWAM
JAM :

HADITS JIBRIL; DASAR-DASAR IMAN YANG ENAM (Iman Dengan Para Rasul)

Terbit 18 Juni 2021 | Oleh : Pondok Pesantren Nurul Hikmah | Kategori : Catatan Aqidah
HADITS JIBRIL; DASAR-DASAR IMAN YANG ENAM (Iman Dengan Para Rasul)
IMAN DENGAN PARA RASUL ALLAH Dalamal-Qur’an Alah berfirman:

ءَامَنَ الرّسُولُ بِمَا أنْزِلَ إلَيْهِ مِنْ رَبِّهِ وَالمُؤمِنُونَ كُلٌّ ءَامَنَ بِاللهِ وَمَلاَئِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ لاَ نُفَرِّقُ بَيْنَ أحَدٍ مِنْ رُسُلِهِ (البقرة:285)

“Rasulullah(Muhammad) telah beriman kepada al-Qur’an yang diturunkan kepadanya, demikianpula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, Malaikat-Malaikat-Nya,Kitab-kitab-Nya dan para Rasul-Nya, (mereka mengatakan), kami tidakmembeda-bedakan antara seseorangpun (dengan yang lain) dari Rasul-rasul-Nya”.(QS. al-Baqarah: 285) Diantara dasar-dasar iman yang enam (Ushul al-Iman as-Sittah)setelah iman kepada Allah, Malaikat-malaikat-Nya, dan kitab-kitab-Nya adalahiman kepada Rasul-rasul Allah. Iman kepada para Rasul artinya meyakini bahwaAllah telah memilih mereka untuk mengemban tugas kenabian dan menyampaikan misikerasulan, dan bahwa Allah telah memuliakan mereka dengan wahyu sebagaipetunjuk dari-Nya untuk para hamba-Nya, serta meyakini bahwa Allah telahmemberikan kepada mereka beberapa kekuatan sebagai mu’jizat sehingga mereka mampumelaksanakan tugas-tugasnya tersebut. Kemudian yang dimaksud beriman kepada para Rasul Allah artinya mencakup jugaberiman kepada para Nabi yang bukan sebagai Rasul. Dengan demikian, iman kepadapara Rasul Allah adalah mempercayai utusan-utusan Allah, baik yang sebagai Rasul,maupun yang hanya Nabi saja. Adapun Nabi yang sekaligus sebagai Rasul pertama adalahAdam, dan Nabi serta Rasul terakhir adalah Nabi Muhammad -‘Alaihimash-Shalah Wa as-Salam. Para Nabi dan Rasul diutus oleh Allah merupakan karunia dan rahmat dari-Nyabagi para hamba-Nya. Karena dengan akal semata manusia tidak akan mampu mengetahuiperkara-perkara yang bisa menyelamatkannya di akhirat kelak. Maka dengandiutusnya para Nabi dan Rasul, menjadi dapat diperoleh maslahat-maslahat yangpokok bagi manusia, karena memang manusia sangat membutuhkan kepada kehadiranpara Nabi dan para Rasul. Kenabian (An-Nubuwwah) Kata an-Nubuwwah berasal dari kata an-naba’ yang berartikabar atau berita, karena kenabian adalah penyampaian berita atau pemberitaandari Allah. Atau kata tersebut berasal dari kata an-Nabwah yang bererti ar-Rif’ahyang berarti ketinggian, karena memang derajat para Nabi sangat tinggi danmulia. Kerasulan adalah derajat yang paling tinggi dan mulia. Tidak ada derajatamal ibadah, keta’atan, kemuliaan, dan kehormatan menurut Allah yang melebihidiatas kerasulan. Kenabian tidak dapat diperoleh dengan jalan ibadah yang sungguh-sungguh, denganmemperbanyak amal saleh, maupun dengan memperindah akhlak. Kenabian bukansesuatu yang bisa diperoleh dengan jalan usaha dan upaya (Ghair Muktasab).Kenabian adalah murni pemilihan dan pemberian Allah kepada beberapa hamba-Nyayang Ia kehendaki. Dalam al-Qur’an Allah berfirman:

يُؤْتِي الحِكْمَةَمَنْ يَشَاءُ (البقرة: 269)

“Allah menganugerahkan al-Hikmah kepada siapa saja yang Ia kehendaki”.(QS. al-Baqarah: 269). Yangdimaksud al-Hikmah dalam ayat tersebut adalah “an-Nubuwwah Waar-Risalah”, artinya kenabian dan kerasulan. Demikian ditafsirkan oleh sahabat‘Abdullah ibn Mas’ud, sebagaimana dikutip oleh al-Imam Ibn Furak kitab al-Mujarrad. Para Nabi dan para Rasul pasti lebih sempurna dan lebih unggul dari pada paraumat Nabi dan Rasul itu sendiri (Mursal Ilaihim), baik dalam segikecerdasan, keutamaan, pengetahuan, kesalehan, sifat iffah (kejauhandari maksiat), keberanian, kedermawanan, kezuhudan, dan dalam berbagai hallainnya. Allah  berfirman:

إنَّ اللهَ اصْطَفَى ءَادَمَ وَنُوحًا وَءَالَ إبْرَاهِيْمَ وَءَالَ عِمْرَانَ عَلَى العَالَمِيْنَ  (ءال عمران: 33)

“Sesungguhnya Allah telah memilih Adam, Nuh, keluarga Ibrahimdan keluarga ‘Imran melebihi segala umat”. (QS. Ali Imran: 33) Nabi tidak ada yang seorang perempuan, atau yang berstatus sebagai budakatau hamba sahaya. Seorang Nabi harus sempurna memiliki panca indra, karena halini sangat perlu dalam mengemban tugas risalah dan segala hal yang berkaitandengannya. Rasulullah  bersabda:

مَا بَعَثَ اللهُ نَبِيًّا إلاّ حَسَنَ الوَجْهِ حََسَنَ الصَّوْتِ وَإنَّ نَبِيَّكُمْ أحْسَنُهُمْ وَجْهًا وَأحْسَنُهُمْ صَوتًا (رَوَاهُ التِّرمذِيُّ)

“Tidaklah Allah mengutus seorang Nabi melainkan ia bagus wajahnya, dan indahsuaranya, dan sesungguhnya Nabi kalian (Muhammad) adalah yang paling tampanwajahnya dan paling indah suaranya diantara mereka”. (HR. at-Tirmidzi). PerbedaanNabi Dan Rasul Nabi dan Rasul sama-sama menerima wahyu dari Allah, dan kedua diperintahuntuk menyampaikan wahyu tersebut. Artinya, baik Nabi maupun Rasul wajib bertabligh.Adapun perbedaan antara Nabi dan Rasul adalah sebagai berikut: A.   Rasul ialah seorang yang menerima wahyu dari Allah yangmenghapus (Nasikh) sebagian hukum-hukum syari’at Rasul sebelumnya, atau iamembawa hukum-hukum yang baru sama sekali. Artinya membawa hukum-hukum yangbelum pernah dibawa oleh Rasul-Rasul sebelumnya. Sedangkan seorang Nabi yangbukan Rasul ialah seorang yang menerima wahyu dari Allah dan datang denganmengikuti syari’at Rasul sebelumnya. Keduanya, baik Rasul maupun yang Nabi saja wajib bertablighkepada umat. Dalam sebuah hadits Rasulullah bersabda:

الأنبيَاءُ إخْوَةٌ لِعَلاّتٍ دِيْنُهُمْ وَاحِدٌ وَأمَّهَاتُهُمْ شَتَّى (رَوَاهُ الشّيْخَان)

“Para nabi (bagaikan) saudara seayah, -artinya- agama merekasatu (yaitu Islam) dan ibu-ibu mereka (artinya syari’at-syari’at mereka) berbeda-beda”.(HR. al-Bukhari, Muslim, Ibn Hibban, Ahmad ibn Hanbal dan lainnya). Contoh perbedaan hukum-hukum syari’at; di dalamsyari’at Nabi Ya’qub diperbolehkan seorang laki-laki menikahi dua perempuanbersaudara sekaligus. Sedangkan hal ini diharamkan di dalam syari’at NabiMuhammad. B.     Kerasulan berlaku di kalangan manusia dan Malaikat,sedangkan kenabian hanya berlaku dikalangan manusia saja. Allah berfirman:

اللَّهُ يَصْطَفِي مِنَ الْمَلَائِكَةِ رُسُلًا وَمِنَ النَّاسِ(الحج: 75)

“Allah memilih utusan-utusan-Nya (para Rasul-Nya) dari kalangan Malaikatdan dari kalangan manusia”. (QS. al-Hajj: 75) Rasuldari kalangan Malaikat di antaranya seperti Jibril. Beliau bertugas untukmenyampaikan perintah-perintah Allah kepada para Malaikat lainnya, di sampingmanyampaikan wahyu-wahyu Allah kepada para Nabi dan para Rasul dari kalanganmanusia. Seperti halnya para Rasul, para Nabijuga diperintah untuk bertabligh. Artinya diperintah untuk menyampaikan apayang diwahyukan oleh Allah kepada mereka bagi segenap manusia. Dengan demikianbukan hanya para Rasul saja yang wajib bertabligh, tapi juga para Nabi. Inilahpemahaman yang sesuai dengan nash-nash al-Qur’an dan hadits-haditsRasulullah. Karena di antara hikmah diangkatnya seseorang menjadi Nabi adalahuntuk menyebarkan petunjuk yang ia terima kepada umat. Banyak sekali ayat-ayatal-Qur’an yang menunjukan bahwa para Nabi diperintahkan untuk bertabligh. Diantaranya firman Allah:

وَمَا أَرْسَلْنَا فِي قَرْيَةٍ مِنْ نَبِيٍّ إِلَّا أَخَذْنَا أَهْلَهَا بِالْبَأْسَاءِ وَالضَّرَّاءِ لَعَلَّهُمْ يَضَّرَّعُونَ (الأعراف: 94)

“Kami (Allah) tidak-lah mengutus seorang Nabi-pun kepada suatunegeri, (lalu penduduknya mendustakan Nabi itu) melainkan kami timpakan kepadapenduduknya kesempitan dan penderitaan supaya mereka tunduk dengan merendahkandiri”. (QS al-A’raf: 94) Makna “al-Irsal” (pengutusan) terhadap seorang Nabi yang disebutkan dalam ayat di atas artinyapengutusan untuk bertabligh dan menyeru kepada segenap umat untuk menyembahAllah. Dari sini kita dapat tarik kesimpulan bahwa sebagian definisi tentang Nabidan Rasul yang berkembang di sebagian masyarakat kita, mengatakan: “SeorangRasul mendapatkan wahyu dan wajib atau diperintah bertabligh, sedangkan seorangNabi menerima wahyu tetapi tidak diperintah dan tidak wajib untuk bertabligh”adalah definisi yang tidak sejalan dengan nash-nash al-Qur’an danhadits-hadits Rasulullah. Dalam ayat lain Allah berfirman:

وَكَمْ أَرْسَلْنَا مِنْ نَبِيٍّ فِي الْأَوَّلِينَ، وَمَا يَأْتِيهِمْ مِنْ نَبِيٍّ إِلَّا كَانُوا بِهِ يَسْتَهْزِئُونَ (الزخرف: 6-7)

“Alangkahbanyak Nabi-Nabi yang telah Kami utus kepada umat-umat terdahulu. Dan tidak adaseorang Nabi-pun yang datang kepada mereka kecuali mereka selalumemperolok-oloknya”. (QS. az-Zukhruf: 6-7). Ayat ini dengan jelasmemberikan pemahaman bahwa para Nabi wajib melakukan tabligh. Yaitu wajibmenyampaikan apa yang diwahyukan oleh Allah kepada mereka bagi segenap umat.Selain dua ayat ini, masih banyak ayat-ayat lainnya yang menunjukan hal tersebut.Seperti di antaranya dalam QS. al-Hajj: 52, QS. Saba’:34, dan lainnya. Inilah keterangan tentang perbedaanantara Nabi dan Rasul yang telah ditegaskan oleh para ulama Muhaqqiqin,seperti al-Imam Abu Manshur al-Baghdadi dalam Kitab Ushuluddin[1],al-Imam al-Baidlawi dalam Tafsir al-Baidlawi[2],al-Imam al-Qunawi dalam Syarh al-‘Aqidah ath-Thahawiyyah[3],al-‘Allamah al-Bayyadli dalam kitab Isyarat al-Maram Min ‘Ibaratal-Imam[4],al-Imam al-Munawi dalam kitab al-Faidl al-Qadir[5],dan oleh para ulama terkemuka lainnya. Ini adalah pemahaman yang sesuaibagi derajat kenabian. Karena itu kita meyakini sepenuhnya bahwa semua Nabidiperintah untuk mengemban tugas kenabian dan mereka semua telah menunaikantugas tersebut dengan sangat baik dan sempurna. Bukankah termasuk di antarasifat-saifat para Nabi adalah tabligh?! Bila seorang muslim biasa saja, -yangbukan sebagai Nabi juga bukan seorang Rasul-, telah diwajibkan dan diperintahuntuk bertabligh, yaitu mengajak kepada perkara-perkara yang diperintahkan olehAllah (al-Ma’ruf) dan mencegah dari perkara-perkara yang dilarang olehAllah (al-Munkar), maka terlebih lagi bagi seorang yang diangkat menjadiNabi, tentunya kewajiban bertabligh tersebut sudah pasti ada. Jumlah Para Nabi Dan Rasul Para ulama berbeda pendapattentang menetapkan jumlah bagi para Nabi dan Rasul, sebagai berikut: 1.     Sebagian ulama berpendapatbahwa jumlah para Nabi adalah 124. 000 (seratus dua puluh empat ribu) Nabi. Dansebanyak 313 orang dari jumlah tersebut adalah sekaligus memiliki predikat sebagaiRasul. Keterangan ini berdasarkan kepada sebuah hadits riwayat Ibn Hibban darisahabat Abu Dzarr, dari Rasulullah. 2.     Sebagian ulama lainnyamengatakan bahwa yang benar kita tidak harus memastikan jumlah tertentu bagijumlah para Nabi tersebut. Karena dengan menentukan jumlah tertentudikhawatirkan akan memasukkan yang bukan bagian dari mereka, atau sebaliknya,tidak memasukkan yang sebenarnya bagian dari mereka. Adapun hadits riwayat IbnHibban di atas menurut pendapat kedua ini adalah hadits yang masihdiperselisihkan tentang keshahihannya (Mukhtalaf Fi Shihhatih). Nabidan Rasul pertama adalah Nabi Adam, dan Nabi serta Rasul terakhir adalah NabiMuhammad -‘Alaihim ash-Shalah Wa as-Salam-. Adapun pendapat yang mengatakanbahwa  Adam bukan seorang Nabi dan Rasul,atau mengatakan bahwa Adam adalah seorang Nabi saja, bukan seorang Rasul,adalah pendapat sesat dan batil[6]. Secaraumum para Rasul lebih utama dari pada Nabi yang bukan Rasul. Ada lima orang Nabiyang paling utama, mereka  adalah;Muhammad, Ibrahim, Musa, ‘Isa, dan Nuh. Dan yang paling utama diantara mereka adalahNabi Muhammad. Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa sahabat Abu Hurairah berkata:

خِيَارُ الأنْبِيَاءِ خَمْسَةٌ مُحَمَّدٌ وَإبْرَاهِيْمُ وَمُوْسَى وَعِيْسَى وَنُوْحٌ وَخِيَارُهُمْ مُحَمَّدٌ(صَلّى اللهُ عَليه وسَلّم)

“Para Nabi pilihan (diantara nabi yang lain) adalahMuhammad, Ibrahim, Musa, Isa, Nuh (dengan urutan seperti ini) dan yang palingutama diantara mereka adalah Muhammad”. KelimaNabi tersebut dikenal dengan sebutan ‘Ulul ‘Azmi al-Khamsah. Disebutdemikian karena mereka telah mencapai puncak kesabaran dan keteguhan dalammemegang teguh ajaran-ajaran Islam dan dalam berdakwah kepadanya. Adapun mengutamakansebagian Nabi atas sebagian yang lainnya tanpa didasarkan kepada nash-nashyang telah ditetapkan dalam al-Qur’an dan hadits maka hal itu tidak dibenarkan. Kemudian,dua puluh limaNabi yang disebutkan dalam al-Qur’an kebanyakan mereka adalah sebagai Rasul,dan ada beberapa saja yang bukan Rasul. PembenaranTerhadap Semua Nabi Dan Rasul SemuaNabi membawa misi pembenaran terhadap semua Nabi-Nabi Allah sebelumnya. Artinya,semua Nabi dan Rasul datang dengan membawa prinsip dan misi yang sama. Yaitu membawamisi mentauhidkan Allah, dan datang dengan membawa satu agama yaitu agama Islam.Nabi Muhammad bukan sebagai Nabi pertama yang membawa agama Islam, melainkan beliaudatang untuk memperbaharui dakwah kepada agama Allah tersebut. Karena itu semuaNabi beragama Islam. Nabi Adam seorang muslim, Nabi Ibrahim muslim, Nabi Musamuslim, Nabi ‘Isa muslim, dan seluruh Nabi Allah adalah orang-orang Islam.Perbedaan diantara para Nabi tersebut hanya pada syari’at yang mereka bawa. Tentanghal ini secara eksplisit al-Qur’an menyebutkan:

مَا كَانَ إِبْرَاهِيمُ يَهُودِيًّا وَلَا نَصْرَانِيًّا وَلَكِنْ كَانَ حَنِيفًا مُسْلِمًا وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ (ءال عمران: 67)

“Ibrahimbukanlah seorang yang memeluk agama orang-orang Yahudi dan Nasrani, melainkania adalah seorang muslim, dan tidak-lah ia termasuk orang-orang yang musyrik”.(QS. Ali ‘Imran: 67) Atasdasar ini maka kita wajib membenarkan semua para Nabi dan Rasul yang telahdiutus oleh Allah. Semua Nabi Allah, yaitu seseorang yang mengaku sebagai Nabidimasa berlakunya kemungkinan itu yaitu sebelum diutusnya Nabi terakhir; NabiMuhammad, dibenarkan pengakuannya bila ia menunjukkan mukjizat sebagai buktikebenarannya, juga mereka semua dibenarkan karena semuanya datang dengan membawaagama Islam. Nabi Ibrahim, Nabi Musa, Nabi ‘Isa, dan seluruh Nabi lainnya,semuanya wajib dibenarkan sebagai Nabi-Nabi Allah karena semuanya datang denganmembawa agama Islam, yang inti ajarannya adalah mentauhidkan Allah. Inilahyang dimaksud “persaksian” Nabi Muhammad dan seluruh orang Islam dalamal-Qur’an yang terdapat pada QS. al-Baqarah: 285, yang telah disebutkan padaawal tema ini: “Semuanyaberiman kepada Allah, Malaikat-Malaikat-Nya, Kitab-kitab-Nya dan paraRasul-Nya, (mereka mengatakan), kami tidak membeda-bedakan antara seseorangpun(dengan yang lain) dari Rasul-rasul-Nya”. Kandungan ayat ini samasekali bukan merupakan pengakuan, pembenaran, atau legitimasi bagi apa yangdiyakini oleh orang-orang Yahudi dan orang-orang Nasrani di masa sekarang.Karena mereka telah menyelewengkan agama Islam dan ajara-ajaran yang telahdibawa oleh Nabi Musa dan Nabi ‘Isa. Karena itu, menyatukan agama Yahudi, agamaNasrani dan agama Islam di dalam satu rumpun, sebagai “Agama Monotheisme”, atausebagai agama-agama yang menyeru kepada mentauhidkan Allah, adalah pendapatyang sama sekali tidak berdasar. Karena pada kenyataannnya hanya agama Islamsaja yang masih murni dan konsisten menyeru kepada mentuhidkan Allah. Dengan demikian tidak bolehdikatakan bahwa agama samawi ada tiga; Islam, Yahudi, dan Nasrani. Karena agamasamawi hanya satu, yaitu agama Islam. Tidak boleh kita mengatakan “al-Adyanas-Samawiyyah” (agama-agama samawi), tetapi yang benar adalah “ad-Dinas-Samawi”, karena hanya agama Islam agama yang diridlai oleh Allah dandibawa oleh seluruh Nabi dan para Rasul-Nya. Sifat-sifat Nabi Dan Rasul Sesungguhnya Allah mengutuspara Nabi untuk menyampaikan kepada umat manusia perkara-perkara yang menjadikemaslahatan manusia itu sendiri, baik kemaslahatan dunia maupun kemaslahatanagama dan akhirat. Para Nabi adalah manusia-manusiapanutan dan teladan bagi seluruh manusia. Mengikuti segala teladan danperbuatan mereka adalah satu-satunya jalan menuju keselamatan dan kebahagiaandi dunia dan di akhirat. Karena itu sudah pasti Allah telah menganugerahkankepada mereka sifat-sifat terpuji dan budi pekerti yang mulia. Dalam al-Qur’an Allahberfirman:

وَكُلًّا فَضَّلْنَا عَلَى الْعَالَمِينَ (الأنعام: 86)

“… dan kepada masing-masing(para Nabi itu) Kami (Allah) lebihkan derajat mereka di atas sekalian alam”. (QS.al-An’am: 86). Diantara sifat-sifat terpuji yang ada pada diri mereka adalah jujur (as-Sidq),mustahil pada diri mereka terdapat sifat dusta (al-Kidzb). Nabi Muhammadmisalkan, sebelum diangkat menjadi Nabi, beliau sudah terkenal di kalanganpenduduk Mekah sebagai orang yang jujur dan terpercaya (ash-Shadiq al-Amin).Kejujuran beliau ini diakui oleh setiap orang yang beriman kepadanya, danbahkan juga diakui oleh orang-orang kafir yang sangat memusuhinya. Para Nabi juga memiliki sifat cerdas (al-fathanah).Mustahil pada diri mereka terdapat sifat bodoh dan bebal (al-Ghabawah).Karena seandainya para Nabi sebagai orang-orang bebal dan bodoh maka umat yangmerupakan obyek dakwah mereka tidak akan pernah menerima, bahkan akanmenyingkir. Para Nabi juga memiliki sifatamanah. Artinya bahwa mereka adalah orang-orang yang sangat dipercaya. Mustahilpada diri mereka terdapat sifat khianat. Mereka juga memiliki sifat Shiyanahdan ‘Iffah, artinya terjaga dari segala perbuatan tercela. Mustahilmereka memiliki sifat Radzalah, yaitu sifat yang menjadikan seseorangberbuat tercela dan tidak senonoh, seperti mencuri-curi pandang terhadapperempuan yang bukan mahramnya, atau mencuri sebiji anggur, dan semisalnya.Juga mustahil bagi mereka sifat Safahah, seperti berkata-kata dengankeji dan kotor. Kemudian,para Nabi pasti memiliki sifat Syaja’ah. Artinya bahwa mereka adalahorang-orang yang berani. Mustahil mereka memiliki sifat pengecut (al-jubn).Sebagian sahabat Rasulullah dalam menggambarkan sifat Syaja’ah-nyaberkata: “Apa bila kami sedang berada di tengah peperangan berkecamuk, makakami semua berlindung di belakang Rasulullah”. Allah telah menganugerahkankekuatan kepada Nabi Muhammad setara dengan kekuatan empat puluh oranglaki-laki paling kuat di antara manusia-manusia biasa. Demikian pula para Nabimemiliki sifat tabligh. Artinya bahwa mereka telah menyampaikan segalaperkara yang diperintahkan oleh Allah untuk disampaikan kepada umatnya dengansempurna. Mustahil bagi mereka menyembunyikan apa harus disampaikan (al-Kitman). Para Nabi mustahil terjangkit penyakit gila,atau penyakit-penyakit yang menyebabkan orang lain tidak mau mendekat dan menyingkir,serta tidak mau mendengar dakwah mereka. Seperti penyakit lepra, borok-borokyang menjijikan hingga mengeluarkan belatung darinya. Para Nabi juga memiliki sifat Fashahah.Artinya, mereka adalah orang-orang yang sangat fasih dalam berbicara. Tidak adaseorangpun dari mereka yang gagap, atau ta’ta’; yaitu yang selaluterdengar huruf ta’ dalam setiap pembicaraan, juga tidak ada yang alstagh;yaitu seperti yang mengucapkan huruf ra’ menjadi huruf ghain,atau huruf lam menjadi huruf tsa’. Juga mustahil bagi para Nabi berbicarasalah dalam berkata-kata (Sabq al-Lisan; keseleo lidah), baikdalam perkara-perkara syari’at maupun dalam perkara-perkara biasa. Karena bilahal ini terjadi dalam perkataan mereka maka segala kebenaran yang diucapkannyaakan diragukan oleh umatnya. Tentu pula umatnya akan berkata kepadanya:“Mungkin ia salah ucap ketika menyampaikannya”. Demikian pula mustahil pulapara Nabi terpangaruh akal mereka oleh sihir. Kemudian para Nabi jugaterpelihara, -baik sebelum diangkat manjadi nabi atau sesudahnya-, dari segala kekufuran,dari dosa-dosa besar, dan dari dosa-dosa kecil yang mengandung kekeruhan dankerendahan jiwa (al-Khisah Wa ad-Dana’ah). Dosa kecil yang mengandungkerendahan jiwa, seperti mencuri-curi pandang terhadap perempuan yang bukanmahram, atau mencuri sebiji anggur, dan lain sebagainya. Adapun dosa kecil yangtidak mengandung kerendahan dan kekeruhan jiwa, maka pendapat yang kuat dandidukung oleh ayat-ayat al-Qur’an mengatakan bahwa hal tersebut mungkin terjadipada diri mereka. Akan tetapi mereka langsung diingatkan oleh Allah untukbartaubat sebelum perbuatan mereka tersebut diikuti oleh orang lain. Contohdalam hal ini adalah perbuatan Nabi Adam ketika di surga, beliau mamakan buahdari pohon yang dilarang oleh Allah. Perbuatan beliau ini adalah dosa kecilyang sama sekali tidak mengandung kerendahan dan kekeruhan jiwa. Karenanya didalam al-Qur’an Allah berfirman tentang Nabi Adam:

وَعَصَى آَدَمُ (طه: 121)

“Dan Adam telah berbuatmaksiat kepada Tuhannya”. (QS. Thaha: 121) Yang dimaksud “maksiat” dalam ayat inibukan sebagai dosa besar, juga bukan merupakan dosa kecil yang mengandung kehinaandan kekeruhan jiwa. Melainkan hanya dosa kecil saja, yang hal itu sama sekali tidak mengandung kerendahan dan kekeruahan jiwa. Selain memiliki sifat-sifatwajib dan sifat-sifat mustahil sebagaimana telah diuraikan di atas, para Nabi juga memiliki sifat Ja’iz. Yaitu sifat-sifat yang terjadi pada diriumumnya manusia yang hal tersebut sama sekali tidak merendahkan derajatkenabian, seperti makan, minum, tidur, sakit dengan penyakit yang tidakmenyebabkan orang lain menjauh dan menyingkir, pingsan yang disebabkan rasasakit, dan meninggal. Termasuk kemungkinan buta beberapa saat; artinya tidakselamanya dan bukan buta sebagai bawaan dari lahir, seperti buta beberapa saat yangterjadi pada diri Nabi Ya’qub, yang kemudian beliau dapat melihat normalkembali seperti sedia kala. Beberapa Cerita Dusta Tetang Sebagian Nabi Berikutini akan diuraikan beberapa cerita dusta sekitar para Nabi yang sama sekali ceritatersebut tidak berdasar. Cerita-cerita ini bertentangan dengan penjelasansifat-sifat para Nabi yang telah kita jelaskan di atas: 1.     Cerita dusta tentang Nabi Ibrahim. Cerita inimenyebutkan bahwa Nabi Ibrahim sebelum diangkat menjadi Nabi pernah ragu-raguakan adanya Allah beberapa saat lamanya. Dia menyembah bintang, kemudianmenyembah bulan, dan kemudian ia menyembah matahari. Cerita ini bohong belaka. Karena seorang Nabi wajib selalu terpelihara dari kekufurandan perbuatan syirik, baik sebelum maupun setelah mereka diangkat menjadi Nabi.Nabi Ibrahim sudah mengetahui dari semenjak kecil bahwa bulan, bintang, danmatahari tidak layak untuk disembah dan dijadikan Tuhan. Karena semua ituadalah benda yang mamiliki bentuk dan ukuran, serta mengalami perubahan darisatu keadaan kepada keadaan lain. Benda-benda tersebut bergerak, terbit,kemudian terbenam dan lenyap. Segala sesuatu yang berubah pasti membutuhkankepada yang menjadikannya dalam perubahan tersebut. Demikian pula segala bendayang memiliki ukuran pasti membutuhkan kepada yang menjadikannya pada ukurantersebut. Dan setiap sesuatu yang membutuhkan maka berarti dia itu lemah. Dansetiap yang lemah sangat tidak patut untuk disembah dan dituhankan. Nabi Ibrahim telah mengetahui dari semenjak kecil bahwa hanya Allah yang berhakuntuk disembah. Beliau meyakini bahwa Allah tidak menyerupai suatu apapun darimakhluk-Nya. Beliau juga mengetahui bahwa segala sesuatu selain Allah adalahciptaan Allah, maka mustahil Allah sama dengan yang diciptakan-Nya. Tentang halini Allah berfirman:

وَلَقَدْ آَتَيْنَا إِبْرَاهِيمَ رُشْدَهُ مِنْ قَبْلُ وَكُنَّا بِهِ عَالِمِينَ (الأنبياء: 51)

“Dan sesungguhnyaKami (Allah) telah menganugerahkan kepada Ibrahim akan kebenaran dari dahulu (artinyadari semenjak kecil), dan sungguh Kami mengetahi segala keadaannya”. (QS.al-Anbiya: 51). Adapunfirman Allah dalam QS. al-An’am tentang perkataan Nabi Ibrahim ketika beliaumelihat bintang, bulan, dan matahari:

هَذَا رَبِّي (الأنعام: 76، 77، (78

adalah gaya bahasa dalampengertian Istifham Inkari. Artinya, sebuah kalimat dalam bentukpertanyaan tapi untuk tujuan mengingkari, bukan untuk tujuan menetapkan. Dengandemikian makna ayat di atas adalah: “Inikah tuhanku seperti yang kalian (umat Nabi Ibrahim) sangka?”. Artinya, ini bukan tuhanku seperti yang kalian sangka. 2.     Cerita dusta tentang Nabi Yusuf. Menurut cerita inibahwa Nabi Yusuf saat berumur 17 tahun dan tinggal di rumah penguasa Mesirhendak berbuat zina. Na’uzdu Billah. Suatu hari, menurut cerita dustaini, istri penguasa Mesir tersebut yang bernama Zalikha menggodanya untukberbuat zina. Kemudian demi melihat kecantikan, timbul keinginan dalam diriNabi Yusuf untuk menyambut godaan tersebut. Peristiwa semacam ini jelas suatuyang mustahil pada diri seorang Nabi. Benar, saat itu Zalikha yang memilikikeinginan untuk berbuat zina, tapi sama sekali tidak benar kalau Nabi Yusufmemiliki keinginan yang sama. Adapunfirman Allah dalam QS. Yusuf: 24 tidak boleh dipahami bahwa Nabi Yusuf memilikikeinginan untuk berbuat zina. Ayat tersebut ialah:

وَلَقَدْ هَمَّتْ بِهِ وَهَمَّ بِهَا لَوْلَا أَنْ رَأَى بُرْهَانَ رَبِّهِ (يوسف: 24)

Ayatini memiliki beberapa penafsiran sebagaiman telah disebutkan oleh para ulamaahli tafsir sendiri. Di antaranya ialah bahwa kalimat jawab dari lafazh “LawLa…” dibuang (mahdzuf). Ini ditunjukan oleh lafazh sebelumnya, yaitulafazh “Hamma Biha”. Kemungkinan tujuan kalimat (Taqdir al-Kalam)tersebut adalah “Law La An Ra’a Burhana Rabbih Hamma Biha”. Jelasnyaialah, bahwa Zalikha saat itu benar-benar ingin berbuat zina dengan Nabi Yusuf.Sedangkan Nabi Yusuf, kalau saja beliau tidak mendapatkan petunjuk dariTuhannya bahwa ia akan menjadi seorang Nabi, dan bahwa seorang Nabi itu pastiterjaga dari berbuat zina, maka dia akan memiliki keinginan yang sama untukberbuat zina. Dan pada kenyataannya bahwa Nabi Yusuf telah mendapatkan petunjukdari Tuhannya, sehingga beliau sama sekali tidak memiliki keinginan untukberbuat zina, terlebih lagi melakukannya. Penafsiran lainnya menyebutkan bahwalafazh “Hamma Biha” artinya “Hamma Bi Daf’iha”. Maksudnya ialahbahwa saat Zalikha hendak merangkul Nabi Yusuf dari arah depannya, Nabi Yusufmemiliki keinginan untuk mendorongnya. Namun Nabi Yusuf melihat petunjuk dariTuhannya untuk tidak melakukan hal tersebut. Karena apa bila beliau melakukanitu dan kemudian terjadi sesuatu pada pakaian Zalikha atau pakaian Nabi Yusufsendiri, maka Nabi Yusuf sendiri yang akan disalahkan. Karena itu beliau tidakmelakukan hal tersebut, tapi kemudian beliau lari ke arah pintu hendak keluar. 3.     Cerita dusta tentang Nabi Dawud. Cerita inimenyebutkan bahwa Nabi Dawud memiliki 99 orang istri. Suatu ketika beliauterpesona dengan kecantikan istri salah seorang panglima perangnya. KemudianNabi Dawud mengutus panglima tersebut ke medanperang supaya ia mati di medanperang tersebut, dengan demikian ia dapat mempersunting perempuan itu. 4.     Kisah dusta tentang Nabi Ayyub. Cerita ini menyebutkan bahwa suatu ketika Iblis meniuppada Nabi Ayyub hingga beliau terjangkit penyakit kusta akut hinggamengeluarkan belatung-belatung dari luka-lukanya. Saat belatung-belatungtersebut berjatuhan dari tubuhnya, beliau mengambilnya satu persatu danmeletakannya kembali pada bagian tubuhnya seraya berkata: “Wahai makhlukTuhanku, makanlah rizki yang telah diberikan Allah kepadamu”. Cerita inijelas tidak berdasar sama sekali. Tidak mungkin seorang Nabi memiliki penyakityang menjijikan seperti itu. Karena penyakit semacam itu akan menghilangkanhikmah-hikmah kenabian. Artinya, tidak ada hikmah seorang Nabi diutus dalamkeadaan “berpenyakitan” seperti ini, karena siapapun umatnya akan manjauh danmenghidar darinya. Juga mustahil Nabi Ayyub mengembalikan belatung-belatungtersebut ke tubuhnya agar menyakiti dirinya sendiri dan memakan daging-dagingpada tubuhnya. Karena perbuatan semacam ini sama dengan bunuh diri. Allahberfirman:

وَلَا تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ(البقرة: 195)

“Danjangalah kalian menjerumuskan diri kalian ke dalam kebinasaan”. (QS.al-Baqarah: 195). Adapuncerita yang benar tentang Nabi Ayyub, sebagaimana diriwayatkan oleh al-ImamIbn Hibban dan dishahihkannya, adalah bahwa beliau ditimpa musibah sakit selama18 tahun. Namun Nabi Ayyub sabar dalam sakitnya tersebut, karena beliau tahubahwa hal tersebut dapat meninggikan derajat seseorang. Dalam hadits ini tidakdisebutkan macam penyakit yang telah menimpa Nabi Ayyub tersebut. Yang jelasbahwa penyakit tersebut bukan sesuatu yang menjijikan dan merendahkan derajatkenabian. 5.     Sebagian kitab menceritakan kisah dusta tentang NabiMuhammad. Menurut cerita ini bahwa suatu ketika lidah Rasulullah dikuasai olehsetan, kemudian setan berkata-kata dengan lidah beliau: “Tilka al-Gharaniqal-‘Ula WaInna Syafa’atahunna Laturtaja…”. (Artinya, itulah berhala-berhala yangagung, dan sesungguhnya pertolongan mereka benar-benar sangat diharapkan). Setelahmendengar perkataan ini orang-orang kafir menjadi sangat gembira. Cerita inisama sekali tidak memiliki dasar dan benar-benar sebuah kebatilan belaka.Mustahil Allah memberikan kemampuan kepada setan untuk menguasai lidah paraNabi-Nya, terlebih menggunakannya untuk memuji berhala-berhala. Ceritayang benar tentang ini ialah bahwa suatu ketika Rasulullah membacakan QS. an-Najm.Ketika bacaan beliau sampai kepada ayat 19-20, beliau berhenti sejenak. Ayattersebut ialah:

أَفَرَأَيْتُمُ اللَّاتَ وَالْعُزَّى، وَمَنَاةَ الثَّالِثَةَ الْأُخْرَى (النجم: (19-20)

Kesempatan diamnyaRasulullah ini kemudian dimanfaatkan oleh setan untuk memperdengarkan suarayang dimirip-miripkan dengan suara Rasulullah kepada orang-orang musyrik yangsaat itu berada dekat dengan Rasulullah sendiri. Saat terdengar suara tersebut orang-orangmusyrik menganggap bahwa itu adalah suara Rasulullah. Setan itu berkata: “Itulahberhal-berhala yang agung, dan sesungguhnya pertolongan mereka benar-benar sangatdiharapkan”. Seketika itu orang-orang musyrik menjadi sangat bersuka-ria.Mereka berkata: “Sebelum hari ini Muhammad tidak pernah memuji-muji tuhan-tuhankita, dan hari ini ia telah memberikan pujiannya kepada mereka”. Kemudian Allahmenurunkan ayat al-Qur’an QS. al-Hajj: 52 yang membantah dan mendustakanperkataan mereka:

وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَسُولٍ وَلَا نَبِيٍّ إِلَّا إِذَا تَمَنَّى أَلْقَى الشَّيْطَانُ فِي أُمْنِيَّتِهِ فَيَنْسَخُ اللَّهُ مَا يُلْقِي الشَّيْطَانُ ثُمَّ يُحْكِمُ اللَّهُ آَيَاتِه (الحج: 52)

“DanKami (Allah) tidak mengutus sebelum engkau (Wahai Muhammad) seorang Rasul dantidak pula seorang Nabi, melainkan apa bila ia mengajak kaumnya untuk mengikutiajarannya maka setan akan menambah-nambahkan perkataan sesat yang bukanperkataan Nabi, dan ia (setan) memberikan sangkaan bahwa Nabi-lah yangmengucapkan perkataan rusak dan sesat tersebut. Maka Allah memberikanpenjelasan bahwa perkataan rusak dan sesat itu bukan berasal dari Nabi.Kemudian Allah menguatkan ayat-ayat-Nya”. (QS. al-Hajj: 52)[1]  Kitab Ushuliddin, h. 154[2] Tafsir al-Baidlawi, j. 4, h. 57[3] Syarh al-‘Aqidahath-Thahawiyyah Li al-Qunawi, h. 83[4] Isyarat al-Maram Min ‘Ibaratal-Imam, h.311 dan h. 333[5] al-Faidl al-Qadir, j. 1, h. 15-16[6] Sebagian orang dari kaum Wahhabiyyahmengingkari kenabian dan kerasulan Nabi Adam. Mereka mengatakan bahwa Rasulpertama adalah Nuh. Ini adalah pendapat sesat dan menyesatkan. Pendapat initertulis dalam buku mereka berjudul “al-Iman Bi al-Anbiya’ Bi Jumlatihim”,h. 15   Kholilurrohman, al-Asy’ari asy-Syafi’i ar-Rifa’i al-Qadiri
SebelumnyaHADITS JIBRIL; DASAR-DASAR IMAN YANG ENAM (Iman Dengan Kitab-kitab Allah) SesudahnyaHADITS JIBRIL; DASAR-DASAR IMAN YANG ENAM (Iman Dengan Hari Akhir)

Tausiyah Lainnya