SEKILAS INFO
  • 5 bulan yang lalu / JADWAL KAJIAN AQIDAH TAUHID ASWAJA DR. KH. KHOLILURROHMAN, MA MASJID LATHIIFUSSALAAM – RS. BHAKTI ASIH KOTA TANGERANG SETIAP JUM’AT DAN MINGGU SETELAH SHALAT MAGHRIB PEMBAHASAN KITAB SYARH JAUHARATUTTAUHID
  • 5 bulan yang lalu / JADWAL KAJIAN MAJELIS SUBUH NURUL HIKMAH SETIAP HARI SETELAH SHALAT SUBUH KITAB YANG DI KAJI SAAT INI RIYADHU ASH-SHALIHIN
  • 5 bulan yang lalu / JADWAL KAJIAN TAUHID ASWAJA DR. KH. KHOLILURROHMAN, MA DI MASJID AL-MADINAH CBD CILEDUG KOTA TANGERANG SETIAP SABTU SETELAH SHALAT MAGHRIB KITAB SYARH MATAN AQIDATUL AWAM
JAM :

HADITS JIBRIL; DASAR-DASAR IMAN YANG ENAM (Iman Dengan Qadla Dan Qadar)

Terbit 18 Juni 2021 | Oleh : Pondok Pesantren Nurul Hikmah | Kategori : Catatan Aqidah
HADITS JIBRIL; DASAR-DASAR IMAN YANG ENAM (Iman Dengan Qadla Dan Qadar)
IMAM DENGAN QADLA DAN QADAR Imam kepada Qadla dan Qadaradalah pembahasan akhir dari pembahasan pokok-pokok keimanan yang enam (Ushulal-Iman as-Sittah). Dengan pembahasan ini semoga kita dapat memahami maknaQadla dan Qadar Allah dengan keimanan yang benar-benar kuat. Karena sekarangini telah timbul beberapa orang bahkan beberapa kelompok yang mengingkari Qadladan Qadar ini dan berusaha mengkaburkannya, baik melalui tulisan-tulisan,maupun di bangku-bangku kuliah. Semoga kita selamat dari kekufuran. Amin. Tentang kewajiban iman kepadaQadla dan Qadar, dalam sebuah hadits shahih Rasulullah bersabda:

الإيْمَانُ  أنْ تُؤمِنَ  باللهِ  وَمَلاَئكِتَهِ وَكُتُبهِ وَرُسُلِهِ  وَاليَوْمِ الآخِرِ  وَتُؤْمِنَ  بِالقَدَرِ خَيْرِهِ  وَشَرّهِ  (رواه مسلم)

“Iman ialah engkau percayakepada Allah, Malaikat-Malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, Rasul-Rasul-Nya, hariakhir, dan engkau percaya kepada Qadar Allah, yang baik maupun yang buruk”. (HR.Muslim). Al-Qadla maknanya al-Khalqu, artinyapenciptaan. Dan al-Qadar maknanya at-Tadbir, artinya ketentuan.Secara istilah al-Qadar artinya ketentuan Allah atas segala sesuatusesuai dengan pengetahuan (al-‘Ilm) dan kehendak-Nya (al-Masyi’ah)yang azali (tidak bermula), di mana sesuatu tersebut kemudian terjadipada waktu yang telah ditentukan dan dikehendaki oleh-Nya terhadap kejadiannya. Penggunaan kata “al-Qadar”terbagi kepada dua bagian. Pertama; bisa bermaksud bagi sifat “Taqdir”Allah, yaitu sifat menentukannya Allah terhadap segala sesuatu yang iakehendakinya. al-Qadar dalam pengertian sifat Taqdir Allah ini tidakboleh kita sifati dengan keburukan dan kejelekan. Karena sifat menentukan Allahterhadap segala sesuatu bukan suatu keburukan atau kejelekan. Tetapi sifatmenentukannya Allah terhadap segala sesuatu yang Ia kehendakinya adalah sifatyang baik dan sempurna, sebagaimana sifat-sifat Allah lainnya. Sifat-sifatAllah tersebut tidak boleh dikatakan buruk, kurang, atau sifat-sifat jeleklainnya. Kedua; kata al-Qadar dapatbermaksud bagi segala sesuatu yang terjadi pada makhluk, atau disebut dengan al-Maqdur.Al-Qadar dalam pengertian al-Maqdur ini ialah mencakup segalaapapun yang terjadi pada seluruh makhluk ini; dari keburukan dan kebaikan,kesalehan dan kejahatan, keimanan dan kekufuran, ketaatan dan kemaksiatan, danlain-lain. Makna yang kedua inilah yang maksud dengan hadits Jibril di atas, “WaTu’mina Bi al-Qadar, Khirihi Wa Syarrihi”, bahwa di antara pokok keimananadalah beriman dengan al-Qadar, yang baiknya dan yang buruknya. Al-Qadardalam hadits ini adalah dalam pengertian al-Maqdur. Pemisahan makna antara sifat TaqdirAllah dengan al-Maqdur adalah sebuah keharusan. Hal ini karenasesuatu yang disifati dengan baik dan juga buruk, atau baik dan jahat, adalahhanya pada makhluk saja. Artinya, siapa yang melakukan kebaikan makaperbuatannya tersebut disebut “baik”, dan siapa yang melakukan keburukan makaperbuatannya tersebut disebut “buruk”. Dan penyebutan “baik dan buruk” sepertiini hanya berlaku pada makhluk saja. Adapun sifat Taqdir Allah, yaitu sifatmenentukannya Allah terhadap segala sesuatu yang Ia kehendakinya, makasifat-Nya ini tidak boleh dikatakan buruk. Sifat Taqdir Allah, sebagaimanasifat-sifat-Nya yang lain, adalah sifat yang baik dan sempurna, ia tidak bolehdikatakan buruk atau jahat. Dengan demikian, bila seorang hamba melakukankeburukan, maka itu adalah perbuatan dan sifat yang buruk dari hamba itusendiri. Adapun Taqdir Allah terhadap keburukan yang terjadi pada hamba itubukan berarti Allah menyukai dan memerintahkan kepada keburukan tersebut.Begitu pula, Allah yang menciptakan kejahatan, bukan berarti Allah jahat.Inilah yang dimaksud bahwa kehendak Allah meliputi segala perbuatan hamba, terhadapyang baik maupun yang buruk. Segala perbuatan yang terjadipada alam ini, baik kekufuran dan keimanan, ketaatan dan kemaksiatan, danberbagai hal lainnya, semunya terjadi dengan kehendak dan dengan penciptaanAllah. Hal ini menunjukan akan kesempurnaan Allah, serta menunjukan akankeluasan dan ketercakupan kekuasaan dan kehendak-Nya atas segala sesuatu.Karena bila seandainya pada makhluk ini terjadi sesuatu yang tidak dikehendakikejadiannya oleh Allah, maka berarti hal itu menafikan sifat ketuhanan-Nya,karena dengan demikian berarti Allah kehendak dikalahkan.oleh kehendakmakhluk-Nya. Ini adalah sesuatu yang mustahil terjadi. Karena itu dalam sebuahhadits, Rasulullah bersabda:

مَا شَاءَ اللهُ كاَنَ وَمَا لَمْ يَشَأ لَمْ يَكُنْ (رواه أبو داود)

“Apa yang dikehendaki olehAllah -akan kejadiannya- pasti terjadi, dan apa yang tidak dikehandaki oleh-Nyamaka tidak akan pernah terjadi”. (HR. Abu Dawud). Dengan demikian segala apapun yangdikehendaki oleh Allah terhadap kejadiannya maka semua itu pasti terjadi.Karena bila ada sesuatu yang terjadi di luar kehendak-Nya, maka hal itumenunjukkan akan kelemahan. Sedangkan sifat lemah itu mustahil atas Allah.Bukankah Allah maha kuasa?! Maka di antara bukti kekuasaannya adalah bahwasegala sesuatu yang dikehendaki-Nya pasti terlaksana. Oleh karena itu, darisudut pandang syara’ dan akal, terjadinya segala sesuatu yang dikehendaki olehAllah adalah perkara yang wajib, artinya wajib adanya dan pasti terjadi. Dalamhal ini Allah berfirman:

وَاللَّهُ غَالِبٌ عَلَى أَمْرِهِ (يوسف: 21)

“Allah maha mengalahkan(menang) di atas segala urusann-Nya”. (Artinya, segala sesuatu yang dikehendakioleh Allah pasti akan terjadi, tidak ada siapapun yang menghalangi-Nya). (QS.Yusuf: 21) Allah menghendaki orang-orangmukmin dengan ikhtiar mereka untuk beriman kepada-Nya, maka mereka menjadiorang-orang yang beriman. Dan Allah menghendaki orang-orang kafir denganikhtiar mereka untuk kufur kepada-Nya, maka mereka semua menjadi orang-orangyang kafir. Seandainya Allah berkehendak semua makhluk-Nya beriman kepada-Nya,maka mereka semua pasti beriman kepada-Nya. Allah berfirman:

وَلَوْ شَاءَ رَبُّكَ لَآَمَنَ مَنْ فِي الْأَرْضِ كُلُّهُمْ جَمِيعًا(يونس: 99)

“Dan seandainya Tuhanmu(Wahai Muhammad) berkehendak, niscaya seluruh yang ada di bumi ini akanberiman”. (QS. Yunus: 99). Tetapi Allah tidak menghendaki semuanyaberiman kepada-Nya. Namun demikian Allah memerintah mereka semua untuk berimankepada-Nya. Maka di sini harus dipahami, bahwa “kehendak Allah” dan “perintahAllah” adalah dua hal berbeda. Tidak segala sesuatu yang dikehendaki oleh Allahadalah sesuatu yang diperintah oleh-Nya. Dan tidak segala sesuatu yangdiperintah oleh Allah adalah sesuatu yang dikehendaki oleh-Nya. Perkataansebagian orang “Segala sesuatu adalah atas perintah Allah”, atau “Banyak sekaliperbuatan kita yang tidak dikehendaki oleh Allah (maksudnyakemaksiatan-kemaksiatan)”, adalah perkataan yang salah. Karena Allah tidakmemerintahkan kepada perbuatan-perbuatan maksiat atau kekufuran. Namundemikian, kejadian kemasiatan atau kekufuran tersebut adalah dengan kehendakAllah. Perkataanyang benar ialah; Segala sesuatu yang terjadi di alam ini adalah dengankehendak Allah, dengan Taqdir-Nya dan dengan Ilmu-Nya. Kebaikan terjadi dengankehendak Allah, dengan Taqdir-Nya, dan dengan Ilmu-Nya, serta kebaikan ini jugadengan perintah-Nya, mahabbah-Nya, dan dengan keridlaan-Nya. Sementarakeburukan terjadi dengan kehendak Allah, dengan Taqdir-Nya, dan denganIlmu-Nya, tapi tidak dengan perintah-Nya, tidak dengan mahabbah-Nya, dantidak dengan keridlaan-Nya. Artinya keburukan, kejahatan, atau kemaksiatantidak disukai dan tidak diridlai oleh Allah. Dengan kata lain, segala sesuatuterjadi dengan kehendak Allah, akan tetapi tidak semuanya dengan perintahAllah. Diantara bukti yang menunjukan bahwa perintah Allah berbeda dengan kehendak-Nyaadalah apa yang terjadi dengan Nabi Ibrahim. Beliau diberi wahyu lewat mimpiuntuk menyembelih putranya; Nabi Isma’il. Hal ini merupakan perintah dari Allahatas Nabi Ibrahim. Kemudian saat Nabi Ibrahim hendak melaksanakan apa yangdiperintahkan Allah ini, bahkan telah meletakan pisau yang sangat tajam danmenggerak-gerakannya di atas leher Nabi Isma’il, namun Allah tidak berkehendakterjadinya sembelihan terhadap Nabi Isma’il tersebut. Kemudian Allah menggantiNabi Isma’il dengan seekor domba yang bawa oleh Malaikat Jibril dari surga.Peristiwa ini menunjukan perbedaan yang sangat nyata antara perintah Allah dankehendak-Nya. Contohlainnya, Allah memerintah kepada seluruh hamba-hamba-Nya untuk beribadahkepada-Nya. Akan tetapi Allah berkehendak tidak semua hamba tersebut beribadahkepada-Nya. Adasebagian yang dikehendaki oleh Allah untuk menjadi orang-orang beriman, dan adasebagian yang lain yang dikehendaki oleh Allah menjadi orang-orang kafir. Allahberfirman:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ(56)

“Dan tidaklah Aku (Allah)ciptakan manusia dan jin melainkan Aku perintahkan mereka untukmenyembah-Ku”. (QS. adz-Dzariyat: 56). Makna firman Allah “IllaLi-Ya’budun”, artinya “Illa Li Amurahum Bi ‘Ibadati”. Bahwa Allahmenciptakan manusia dan jin tidak lain ialah untuk Dia perintahkan merekaberibadah kepada-Nya. Makna ayat ini bukan “Aku (Allah) ciptakan manusia danjin melainkan aku berkehendak pada mereka untuk menyembah-Ku”. Karena jikadiartikan bahwa Allah berkehendak dari seluruh manusia dan jin untuk berimanatau beribadah kepada-Nya, maka berarti kehendak Allah dikalahkan oleh kehendakorang-orang kafir. Karena pada kenyataannya tidak semua hamba beriman danberibadah kepada Allah, tapi ada di antara mereka yang kafir dan menyembahselain Allah. Tentu mustahil jika kehendak Allah dikalahkan oleh kehendakmakhluk-makhluk-Nya sendiri. Kisah Hikmah Diriwayatkanbahwa suatu ketika seorang Majusi berbincang-bincang dengan seorang Qadari.Seorang Qadari (pengikut faham Qadariyyah) ialah orang yang berkeyakinanbahwa segala perbuatan manusia adalah ciptaan manusia sendiri, bukan ciptaanAllah. Kaum Qadariyyah adalah kaum yang ingkar terhadap Qadar Allah. Merekamengaku sebagai orang-orang Islam, namun pada hakekatnya mereka adalahorang-orang kafir. al-Qadari berkata kepada al-Majusi: “Wahaiorang Majusi, masuk Islam-lah engkau!”. Al-Majusi ini tahu bahwa Tuhan orang-orang Islamadalah Allah, maka ia menjawab: “Allah tidak berkehendak agar saya masuk Islam…!”. Al-Qadari berkata: “Tidak begitu. Sesungguhnya Allahberkehendak supaya engkau masuk Islam. Namun engkau sendiri tetap berkehendakdalam kekufuranmu…!”. Al-Majusi berkata: “Jika demikian, maka berartikehendakku mengalahkan kehendak Tuhanmu. Karena buktinya sampai saat ini akutidak berkehendak keluar dari agamaku…!”. Al-Qadari terdiam seribu bahasa. Ia tidak bisa“menundukkan” orang majusi tersebut karena kesesatannya sendiri. Pertama; al-Qadarisesat karena ia berkeyakinan bahwa segala perbuatan manusia adalah ciptaanmanusia itu sendiri. Kedua; ia sesat kerena ia tidak membedakah antara kehendakAllah (Masyi’ah Allah) dengan perintah Allah (Amr Allah). Takdir Allah Tidak Berubah Di atas telah dijelaskanbahwa segala sesuatu terjadi dengan kehendak Allah. Apa bila Allah menghendakisesuatu akan terjadi pada seorang hamba-Nya, maka pasti sesuatu itu akanmenimpanya, sekalipun orang tersebut bersedekah, berdoa, bersilaturrahim, dan berbuatbaik kepada sanak kerabatnya; kepada ibunya, dan saudara-saudaranya. Artinya,apa yang telah ditentukan oleh Allah tidak dapat dirubah oleh amalan-amalan kebaikan. Adapun hadits Rasulullah yangberbunyi:

لَا يَرُدُّ القَضاَءَ شَيءٌ إلّا الدُّعَاءُ (رواه الترمذي)

“Tidak ada sesuatu yang dapatmenolak Qadla kecuali doa”. (HR. at-Tirmidzi). Yang dimaksud dengan Qadla di dalam haditsini adalah Qadla Mu’allaq. Disini harus kita ketahui bahwa Qadla terbagikepada dua bagian: Qadla Mubrab dan Qadla Mu’allaq. Pertama:Qadla Mubram, ialah ketentuan Allah yang pasti terjadi dan tidak dapat berubah.Ketentuan ini hanya ada pada Ilmu Allah, tidak ada siapapun mengetahuinyaselain Dia. Seperti ketentuan mati dalam keadaan kufur (asy-Syaqawah),dan mati dalam keadaan beriman (as-Sa’adah). Ketentuan dua hal ini tidakdapat berubah. Seorang yang telah ditentukan oleh Allah baginya mati dalamkeadaan beriman maka hanya hal itu yang akan terjadi padanya, tidak akan pernahberubah. Sebaliknya, seorang yang telah ditentukan oleh Allah baginya matidalam keadaan kufur maka pasti hal tersebut akan terjadi pada dirinya, tidakada siapapun, dan tidak ada perbuatan apapun yang dapat merubahnya. Allahberfirman:

يُضِلُّ مَنْ يَشَاءُ وَيَهْدِي مَنْ يَشَاءُ (النحل: 93)

“Allah menyesatkan terhadaporang yang Dia kehendaki, dan memberi petunjuk kepada orang yang Diakehendaki”. (QS. an-Nahl: 93). Kedua: Qadla Mu’allaq,yaitu ketentuan Allah yang berada pada lambaran-lembaran para Malaikat. Para Malaikat tersebut mengutipnya dari al-Lauhal-Mahfuzh. Seperti si fulan misalkan, apa bila ia berdoa maka ia akan berumurseratus tahun, atau akan mendapat rizki yang luas, atau akan mendapatkankesehatan, dan seterusnya. Namun, misalkan si fulan ini tidak mau berdoa, atautidak mau bersillaturrahim, maka umurnya hanya enam puluh tahun, ia tidak akanmendapatkan rizki yang luas, dan tidak akan mendapatkan kesehatan. Inilah yangdimaksud dengan Qadla Mu’allaq atau Qadar Mu’allaq, yaituketentuan-ketentuan Allah yang berada pada lebaran-lembaran para Malaikat. Dariuraian ini dapat dipahami bahwa doa tidak dapat merubah ketentuan (Taqdir)Allah yang Azali yang merupakan sifat-Nya. Karena mustahil sifat Allahbergantung kepada perbuatan-perbuatan atau doa-doa hamba-Nya. Sesungguhnya Allahmaha mengetahui segala sesuatu, tidak ada yang tersembunyi dari-Nya suatuapapun. Allah maha mengetahui perbuatan manakah yang akan dipilih oleh si fulandan apa yang akan terjadi padanya sesuai yang telah tertulis di al-Lauhal-Mahfuzh. Namundemikian doa ini adalah sesuatu yang diperintahkan oleh Allah atas parahamba-Nya. Dalam al-Qur’an Allah berfirman:

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ(البقرة: 186)

“Dan jika hamba-hamba-ku bertanya kepadamu(Wahai Muhammad) tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat (bukan dalampengertian jarak), Aku kabulkan permohonan orang yang berdoa jika ia memohonkepada-Ku. Maka hendaklah mereka memohon terkabulkan doa kepada-Ku dan berimankepada-Ku, semoga mereka mendapatkan petunjuk” (QS. al-Baqarah: 187) Artinya bahwa seorang yang berdoatidak akan sia-sia belaka. Ia pasti akan mendapatkan salah satu dari tigakebaikan; dosa yang diampuni, permintaan yang dikabulkan, atau mendapatkankebaikan yang disimpan baginya untuk di kemudian hari kelak. Semua dari tigakebaikan ini adalah merupakan kebaikan baginya. Dengan demikian maka tidakmutlak bahwa setiap doa yang dipintakan oleh para hamba pasti dikabulkan olehAllah. Akan tetapi ada yang dikabulkan dan ada pula yang tidak dikabulkan. Yangjelas, bahwa setiap doa yang dipintakan oleh seorang hamba kepada Allah adalahsebagai kebaikan bagi dirinya sendiri, artinya bukan sebuah kesia-siaan belaka.Dalam keadaan apapun, seorang yang berdoa paling tidak akan mendapatkan salahsatu dari kebaikan yang telah kita sebutkan di atas. Allah Pencipta Segala Kebaikan DanKeburukan Akidah Ahlussunnah menetapkanbahwa Allah yang menciptakan kebaikan dan keburukan. Namun demikian adabeberapa faham yang berusaha mengaburkan kebenaran ini dengan mengutip beberapaayat yang sering disalahpahami oleh mereka. Di antaranya, mereka mengutipfirman Allah:

بِيَدِكَ الْخَيْرُ (ءال عمرا: 26)

“… dengan kekuasaan-Mu (YaAllah) segala kebaikan”. (QS. Ali ‘Imran: 26). Mereka berkata: “Dalam ayat ini Allah hanyamenyebutkan al-Khair (kebaikan) saja, Dia tidak menyebutkan asy-Syarr(keburukan). Dengan demikian Allah hanya menciptakan kebaikan saja, adapunkeburukan bukan ciptaan-Nya?!”. Jawab: Kata asy-Syarr (keburukan)tidak disandingkan dengan kata al-Khair (kabaikan) dalam ayat di atas bukanberarti bahwa Allah bukan pencipta keburukan. Ungkapan semacam ini dalamistilah Ilmu Bayan (salah satu cabang Ilmu Balaghah) dinamakan dengan al-Iktifa’.Yaitu meninggalkan penyebutan suatu kata karena telah diketahui padanannya.Contoh semacam ini di dalam al-Qur’an firman Allah:

وَجَعَلَ لَكُمْ سَرَابِيلَ تَقِيكُمُ الْحَرَّ (النحل: 81)

“Dia (Allah) menjadikan bagikalian pakaian-pakaian yang memelihara kalian dari dari panas”. (QS. an-Nahl:81) Yang dimaksud ayat ini adalah pakaian yangmemelihara kalian dari panas, dan juga dari dingin. Artinya, tidak khususmemelihara dari panas saja. Demikian pula dengan firman Allah dalam QS. Ali ‘Imran:26 di atas bukan berarti Allah khusus menciptakan kebaikan saja, tapi yang yangdimaksud adalah menciptakan segala kebaikan dan juga segala keburukan. Kemudiandari pada itu, dalam ayat lain dalam al-Qur’an Allah berfirman:

وَخَلَقَ كُلَّ شَيْءٍ (الفرقان: 2)

“Dan Dia(Allah) yang telah menciptakan segala sesuatu”. (QS. al-Furqan: 2) Kata “Syai’”, yang secara hafiyahbermakna “sesuatu”, dalam ayat ini mencakup segala suatu apapun selain Allah.Mencakup segala benda dan semua sifat benda, termasuk segala perbuatan manusia,juga termasuk segala kebaikan dan segala keburukan. Artinya, segala apapunselain Allah adalah ciptaan Allah. Dalamayat lain Allah berfirman:

قُلِ  اللَّهُمَّ مَالِكَ الْمُلْكِ تُؤْتِي الْمُلْكَ مَنْ تَشَاءُ وَتَنْزِعُ الْمُلْكَ مِمَّنْ تَشَاءُ(ءال عمران: 26)

“Katakanlah (Wahai Muhammad),Ya Allah yang memiliki kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yangEngkau kehendaki, dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki”. (QS.Ali ‘Imran: 26) Dari makna firman Allah:“Engkau (Ya Allah) berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki”, kitadapat memahami bahwa Allah adalah Pencipta kebaikan dan keburukan. Allahyang memberikan kerajaan kepada raja-raja kafir seperti Fir’aun, dan Allah pulayang memberikan kerajaan kepada raja-raja mukmin seperti Dzul Qarnain. Adapun firman Allah:

مَا أَصَابَكَ مِنْ حَسَنَةٍ فَمِنَ اللَّهِ وَمَا أَصَابَكَ مِنْسَيِّئَةٍ فَمِنْ نَفْسِكَ (النساء: 79)

Makna ayat ini bukan berarti kebaikanciptaan Allah, sementara keburukan ciptaan manusia. Pemaknaan seperti iniadalah pemaknaan yang rusak dan merupakan kekufuran. Makna yang benar ialah-sebagaimana telah ditafsirkan oleh para ulama- bahwa kata “Hasanah”dalam ayat di atas artinya nikmat, sedangkan kata “Sayyi’ah” artinyamusibah atau bala (bencana). Dengan demikian makna ayat di atas ialah: “Segalaapapun dari nikmat yang kamu peroleh adalah berasal dai Allah, dan segalaapapun dari musibah dan bencana yang menimpamu adalah balasan darikesalahanmu”. Artinya, amal buruk yang kamu lakukan dibalas oleh Allah denganmusibah dan bala. Allah Pencipta Sebab Dan Akibat Di dunia ini ada sesuatu yangdinamakan “sebab” dan ada yang dinamakan “akibat”. Misalnya, obat sebagai sebabbagi -akibat- sembuh, api sebagai sebab bagi -akibat- kebakaran, makan sebagai sebabbagi -akibat- kenyang, dan lain-lain. Akidah Ahlussunnah menetapkan bahwa sebabdan akibat ini tidak berlaku dengan sendirinya. Artinya, setiap sebab samasekali tidak menciptakan akibatnya masing-masing. Tapi keduanya, baik sebabmaupun akibat, adalah ciptaan Allah dan dengan ketentuan (Taqdir) Allah. Dengandemikian, obat dapat menyembuhkan sakit karena kehendak Allah, api dapatmembakar karena kehendak Allah, dan demikian seterusnya. Segala akibat darisegala sebabnya, jika akibat-akibat tersebut tidak dikehendaki oleh Allah akankejadiannya maka itu semua tidak akan pernah terjadi. Dalam sebuah hadits Shahih,Rasulullah bersabda:

إنّ اللهَ  خَلَقَ  الدّوَاءَ وَخَلقَ  الدَّاءَ  فَإذاَ أُصِيْبَ  دَوَاءُ  الدّاء بَرِأ  بإِذْنِ اللهِ (رواه ابن حبّان)

“Sesungguhnya Allah yang menciptakansegala obat dan yang menciptakan segala penyakit. Apa bila obat mengenaipenyakit maka sembuhlah ia dengan izin Allah”. (HR. Ibn Hibban). Sabda Rasulullah dalam hadits di atas: “… makasembuhlah ia dengan izin Allah” adalah bukti bahwa obat tidak dapat memberikankesembuhan dengan sendirinya. Dan perkara ini nyata dalam kehidupan kitasehari-hari. Sering kita melihat banyak orang dengan berbagai macam penyakit,dalam berobat mereka mempergunakan obat yang sama, padahal jelas penyakit  mereka bermacam-macam. Dan ternyata, sebagianorang tersebut ada yang sembuh, namun sebagian lainnya tidak sembuh. Tentunyaapa bila obat bisa memberikan kesembuhan dengan sendirinya maka pastilah setiaporang yang mempergunakan obat tersebut akan sembuh, namun kenyataan tidakdemikian. Inilah yang dimaksud sabda Rasulullah: “… maka akan sembuh denganizin Allah”. Dengandemikian kita bisa mengetahui bahwa adanya obat tersebut adalah dengan kehendakAllah, demikian pula adanya kesembuhan sebagai akibat dari obat tersebut jugadengan kehendak dan ketentuan Allah. Obat dengan sendirinya tidak menciptakankesembuhan. Demikian pula dengan sebab-sebab lainnya, semua itu tidakmenciptakan akibatnya masing-masing. Kesimpulannya, kita wajib berkeyakinanbahwa sebab tidak menciptakan akibat, akan tetapi Allah yang menciptakan segalasebab dan segala akibat. Golongan-Golongan Dalam Masalah Qadla DanQadar Dalammasalah Qadla dan Qadar umat Islam terpecah menjadi tiga golongan. Kelompokpertama disebut dengan golongan Jabriyyah, kedua disebut dengan golonganQadariyyah, dan ketiga adalah Ahlussunnah Wal Jama’ah. Golonganpertama dan golongan ke dua adalah golongan sesat, dan hanya golongan ke tigayang selamat. Kelompok pertama, yaitu golongan Jabriyyah, berkeyakinan bahwapara hamba itu dipaksa (Majbur) dalam segala perbuatannya. Merekaberkeyakinan bahwa seorang hamba sama sekali ia tidak memiliki usaha atauikhtiar (al-Kasab) dalam perbuatannya tersebut. Bagi kaum Jabriyyah,manusia laksana sehelai bulu atau lakasana kapas yang terbang ditiup angin, iamengarah ke manapun angin itu membawanya. Keyakinansesat kaum Jabriyyah ini bertentangan dengan firman Allah:

وَمَا تَشَاءُونَ إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ(التكوير: 29)

“Dan kalian tidaklahberkehendak kecuali apa yang dikehendaki oleh Allah, Tuhan semesta alam”. (QS.at-Takwir: 26). Ayat ini memberikan penjelasan bahwamanusia diberi kehendak (al-Masyi’ah) oleh Allah. Hanya saja kehendakhamba tersebut dibawah kehendak Allah. Pemahaman ayat ini berbeda dengankeyakinan kaum Jabriyyah yang sama sekali menafikan Masyi’ah dari hamba. Bahkandalam ayat lain secara tegas dinyatakan bahwa manusia memiliki usaha danikhtiar (al-Kasb). Yaitu dalam firman Allah:

لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ (البقرة: 286)

“Bagi setiap jiwa -balasankebaikan- dari segala apa yang telah ia usahakan – dari amal baik-, dan atassetiap jiwa -balasan keburukan- dari segala apa yang ia usahakan -dari amalburuk-”. (QS. al-Baqarah: 286) Kebalikan dari golonganJabriyyah adalah golongan Qadariyyah. Kaum ini memiliki keyakinan bahwa manusiamemiliki sifat Qadar (menentukan) dalam melakukan segala amal perbuatannya,tanpa adanya kehendak dari Allah terhadap perbuatan-perbuatan tersebut. Merekamengatakan bahwa Allah tidak menciptakan perbuatan-perbuatan manusia, tetapimanusia sendiri yang menciptakan perbuatan-perbuatannya tersebut. Terhadap golongan Qadariyyahyang berkeyakinan seperti ini kita tidak boleh ragu sedikitpun untukmengkafirkannya. Mereka sama sekali bukan orang-orang Islam. Karenanya, paraulama kita-pun sepakat dalam mengkafirkan kaum Qadariyyah yang berkeyakinansemacam ini. Mereka telah menyekutukan Allah dengan makhluk-makhluk-Nya, karenamereka menetapkan adanya pencipta kepada selain Allah. Mereka juga telahmenjadikan Allah lemah (‘Ajiz), karena dalam keyakinan mereka Allahtidak menciptakan segala perbuatan hamba-Nya. Padahal di dalam al-Qur’an Allahtelah berfirman:

قُلِ اللَّهُ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ (الرعد: 16)

“Katakan (Wahai Muhammad),Allah adalah yang menciptakan segala sesuatu”. (QS. ar-Ra’ad: 16) Mustahil bagi Allah tidak kuasaatau lemah untuk menciptakan segala perbuatan hamba-Nya. Sesungguhnya Allahyang menciptakan segala benda, dari mulai benda paling kecil bentuknya, yaitu adz-dzarrah,hingga benda yang paling besar, yaitu ‘asrsy, termasuk tubuh manusia, yangnotabene sebagai benda, juga ciptaan Allah. Artinya, bila Allah yangmenciptakan segala benda tersebut, maka demikian pula Allah yang menciptakan segalasifat dari benda-benda tersebut, juga segala perbuatan-perbuatannya. Sangat mustahiljika satu benda diciptakan oleh Allah, tapi kemudian sifat-sifat benda tersebutdiciptakan oleh benda itu sendiri. Karena itu al-Imam al-Bukhari telah menulissatu kitab berjudul “Khalq Af’al al-‘Ibad”, berisi penjelasan bahwasegala perbuatan manusia adalah ciptaan Allah, bukan ciptaan manusia itusendiri. Dengandemikian menjadi sangat jelas bagi kita kesesatan kaum Qadariyyah. Bahwa merekaadalah kaum yang kafir kepada Allah, karena mereka menetapkan adanya penciptakepada selain Allah. Mereka telah menjadikan Allah setara dengan makhluk-makhluk-Nyasendiri. Mereka tidak hanya menetapkan adanya satu sekutu bagi Allah, tapimereka menetapkan banyak sekutu bagi-Nya. Karena dalam keyakinan mereka bahwa setiapmanusia adalah pencipta bagi segala perbuatannya sendiri, sebagimana Allah adalahPencipta bagi tubuh-tubuh semua manusia tersebut. Na’udzu Billah. Golonganterakhir, yaitu Ahluassunnah Wal Jama’ah, adalah golongan yang selamat.Keyakinan golongan ini adalah keyakinan yang telah dipegang teguh olehmayoritas umat Islam dari masa ke masa, antar genarasi ke genarasi. Dan inilah  keyakinan yang telah diwariskan olehRasulullah kepada para sahabatnya. Mereka menetapkan bahwa tidak ada penciptaselain Allah. Hanya Allah yang menciptakan semua makhluk, dari segala dzat-dzatatau tubuh-tubuh mereka, hingga segala sifat-sifat dan perbuatannyamasing-masing. Perbuatan manusia terbagikepada dua bagian. Pertama; Af’al Ikhtiyariyyah, yaitu segala perbuatanyang terjadi dengan inisiatif, dengan usaha, dan dengan ikhtiar dari manusiaitu sendiri, seperti makan, minum, berjalan, dan lain-lain. Kedua; Af’alIdlthirariyyah, yaitu segala perbuatan yang terjadi pada diri hamba yangterjadi di luar usaha, dan di luar ikhtiar manusia itu sendiri, seperti detakjantung, aliran darah dalam tubuh, dan lain sebagainya. Seluruh perbuatanmanusia ini, baik Af’al Ikhtiyariyyah, maupun Af’al Idlthirariyyah adalahciptaan Allah. Kesimpulan Dari uraian di atas menjadijelas bagi kita bahwa apapun yang terjadi di alam ini tidak lepas dari Qadladan Qadar Allah. Artinya bahwa semuanya terjadi dengan penciptaan Allah dandengan ketentuan Allah. Segala apa yang dikehendaki oleh Allah untuk terjadipasti terjadi, dan segala apa yang tidak Dia kehendaki kejadiannya maka tidakakan pernah terjadi. Seandainya seluruh makhluk bersatu untuk merubah apa telahdiciptakan dan ditentukan oleh Allah, maka sedikitpun mereka tidak akan mampumelakukan itu. Bagi seorang yang berimankepada al-Qur’an hendaklah ia berpegang teguh kepada firman Allah:

لَا يُسْأَلُ عَمَّا يَفْعَلُ وَهُمْ يُسْأَلُونَ (الأنبياء: 23)

“(Dia Allah) tidak ditanya(tidak diminta tanggung jawab) terhadap apa yang Dia perbuat, dan -justru-merekalah (para makhluk) yang akan diminta pertanggungjawaban”. (QS. al-Anbiya:23). Kita dituntut untukmelaksanakan apa yang telah dibebankan di dalam syari’at. Bila kita melanggarmaka kita sendiri yang akan mempertanggungjawabkannya, dan bila kita patuh makakita sendiri pula yang akan menuai hasilnya. Dalam hal ini kita tidak boleh meminta“tanggungjawab” atau “protes” kepada Allah. Kita tidak boleh berkata: “MengapaAllah menyiksa orang-orang berbuat maksiat dan orang-orang kafir, padahal Allahsendiri yang berkehendak akan adanya kemaksiatan dan kekufuran pada dirimereka?”. Karena Allah tidak ada yang meminta tanggung jawab dari-Nya. Diaberhak melakukan apapun terhadap makhluk-makhluk-Nya karena semuanya adalahmilik Allah. Kita hendaklah bersyukursedalamnya, bacalah “al-Hamdu Lillah”, pujilah Allah seluas-luasnya,karena Allah telah memberikan karunia besar kepada kita, Dia telah menjadikankita sebagai orang-orang yang beriman kepada-Nya. al-Hamdulillah Rabbal-‘Alamin.   Kholilurrohman, al-Asy’ari asy-Syafi’i ar-Rifa’i al-Qadiri
SebelumnyaHADITS JIBRIL; DASAR-DASAR IMAN YANG ENAM (Iman Dengan Hari Akhir)

Tausiyah Lainnya